LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Perang Khandaq - Persekutuan Yahudi dan Quraish

Perang Khandaq (Parit) juga dikenal sebagai Perang Sekutu (Ahzab) ini terjadi pada bulan Januari 627 M atau bulan Syawwal tahun ke-5 Hijriah, dan berlangsung selama 30 hari. Kota Rasulullah yaitu Madinah dikepung oleh pasukan gabungan suku-suku Arab dan Yahudi. Kekuatan pasukan gabungan tersebut diperkirakan sekitar 10.000 orang dengan 600 (enam ratus) kuda dan beberapa unta, sementara pasukan Rasulullah yang mempertahankan Madinah berjumlah 3.000 (tiga ribu) orang.

Ringkasan Perang Khandaq (Perang Parit)
Rasulullah setelah mendengar kedatangan pasukan sekutu yang terdiri dari suku-suku arab dan juga Yahudi segera memerintahkan untuk menggali parit di sekitar kota Madinah atas saran dari Salman Al-Farisi. Dengan adanya parit serta pegunungan sebagai benteng alami yang mengelilingi Madinah, membuat pasukan kavaleri (pasukan berkuda dan pasukan yang menggunakan unta) dari pasukan sekutu kehilangan keunggulannya / tidak berguna.

Pasukan sekutu berniat untuk melakukan serangan sekaligus, dan membujuk suku Yahudi Madinah yakni Bani Quraiza (yang bersekutu dengan Muslim) untuk membelot dan menyerang Madinah dari arah selatan. Namun, diplomasi Rasulullah menggagalkan hal tersebut. Pasukan Muslim yang terorganisasi dengan baik, dan menurunya semangat pasukan sekutu disertai kondisi cuaca yang buruk menyebabkan pengepungan berakhir dalam kegagalan.

Masjid Salman Al-Farisi, Madinah

Perang ini adalah "perang fikiran", karena kaum Muslim secara taktis mengalahkan lawan-lawan mereka dengan hanya sedikit korban. Upaya pasukan sekutu untuk mengalahkan umat Islam gagal, dan Islam menjadi semakin berpengaruh di wilayah tersebut. Kekalahan itu menyebabkan orang Mekah kehilangan akses perdagangan ke Syam dan juga wibawa mereka.

Asal mula Nama
Perang ini dinamai "parit" atau khandaq, yang digali oleh umat Islam dalam persiapan untuk perang. Salman Al-Farisi adalah seorang Persia yang menyarankan Rasulullah untuk menggali parit di sekitar kota Madinah. Selain itu, Perang ini juga dinamai sebagai Perang Sekutu (Perang Ahzab) karena Al-Qur’an menggunakan istilah persekutuan ( الاحزاب ) dalam surah Al-Ahzab untuk menunjukkan persekutuan orang-orang kafir terhadap Islam.

Penyebab Perang
Dikisahkan bahwa sebab meletusnya perang Khandaq adalah karena beberapa orang Yahudi di antaranya : Sallam bin Abu Al-Huqaiq, Huyay bin Akhthab, Kinanah bin Ar-Rabi, Haudzah bin Qais, dan Abu Ammar (terdiri dari orang-orang Bani Nadhir dan Bani Wail) membentuk pasukan sekutu untuk melawan Rasulullah .

Mereka mendatangi orang-orang Quraisy di Makkah dan menghasut orang-orang Quraisy untuk menyerang Rasulullah . Mereka berkata: "Kami senantiasa akan bersama kalian dalam menghadapi dia hingga kita berhasil membabatnya habis."

Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Wahai orang-orang Yahudi, sesungguhnya kalian adalah ahli Kitab yang pertama mempunyai pengetahuan tentang perselisihan kami dengan Muhammad; Apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?"

Orang-orang Yahudi menjawab: "Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad dan kalian lebih pantas untuk mendapatkan kebenaran dari pada dia." Tentang orang-orang Yahudi tersebut, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut:

Al-Quran menggambarkan situasi dalam surat Al-Ahzab:
 
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبٗا مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلًا  ٥١ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُۖ وَمَن يَلۡعَنِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ نَصِيرًا  ٥٢ أَمۡ لَهُمۡ نَصِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُلۡكِ فَإِذٗا لَّا يُؤۡتُونَ ٱلنَّاسَ نَقِيرًا  ٥٣ أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا  ٥٤ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَمِنۡهُم مَّن صَدَّ عَنۡهُۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا  ٥٥
51.   Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.
52.   Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.
53.   Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia.
54.   ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.
55.   Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

[Q.S. Al-Ahzab : 51-55]
Alasan lain dari pertempuran ini adalah untuk mempertahankan Madinah dari serangan, setelah suku Bani Nadhir dan Bani Qaynuqa membentuk aliansi dengan suku Quraish untuk menyerang Madinah, sebagai balas dendam karena Rasulullah telah mengusir mereka dari Madinah selama Invasi Bani Qaynuqa dan Invasi Bani Nadhir.

Sejarawan Islam Ibnu Katsir menyatakan: "Alasan mengapa pasukan sekutu datang adalah bahwa sekelompok pemimpin Bani Nadhir, yang telah diusir Rasulullah dari Madinah ke Khaybar, termasuk Sallam bin Abu Al-Huqayq, Sallam bin Mishkam dan Kinanah bin Ar-Rabi`, pergi ke Mekah di mana mereka bertemu dengan para pemimpin Quraish dan menghasut mereka untuk berperang melawan Nabi "

Pasukan Sekutu
Sebagian besar pasukan Sekutu terdiri dari orang Quraish Mekah, dipimpin oleh Abu Sufyan yang menurunkan 4.000 prajurit, 300 penunggang kuda, dan 1.000–1.500 orang dengan unta. Bani Nadhir juga menghubungi suku-suku arab lainnya di Najed. Bani Nadhir meminta Bani Ghatafan ikut serta dengan imbalan setengah dari hasil panen Bani Nadhir.

Pasukan ini merupakan yang terbesar kedua dalam aliansi, dengan kekuatan sekitar 2.000 pria dan 300 penunggang kuda yang dipimpin oleh Unaina bin Hasan. Bani Assad juga setuju untuk bergabung, dipimpin oleh Tuleha Asadi. Kemudian Dari Banu Sulaym sekitar 700 orang, meskipun kekuatan ini kemungkinan akan jauh lebih besar jika beberapa pemimpin suku tidak bersimpati pada Islam. Bani Amir, yang memiliki perjanjian dengan Rasulullah , menolak untuk bergabung.

Suku-suku lain termasuk Bani Murra mengirim 400 orang dipimpin oleh Hars ibn Auf Murri, dan Bani Shuja dengan 700 orang dipimpin oleh Sufyan ibn Abd Shams. Secara total, kekuatan pasukan Aliansi diperkirakan mencapai 10.000 pria dan 600 (enam ratus) penunggang kuda. 

Pada bulan Januari tahun 627 M pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan, berbaris menuju di Madinah. Pada saat yang sama pasukan berkuda dari Bani Khuza'a pergi untuk memperingatkan Rasulullah tentang kedatangan pasukan sekutu.

Persiapan Kaum Muslim
Orang-orang dari Bani Khuza'a mencapai Madinah dalam 4 (empat) hari dan memberitahukan Rasulullah  tentang pasukan Sekutu yang akan tiba dalam seminggu. Rasulullah Muhammad mengumpulkan orang-orang Madinah untuk membahas strategi terbaik untuk menghadapi musuh. 

Pada akhirnya, Muslim yang kalah jumlah memilih pertempuran defensif dengan menggali parit yang dalam sebagai penghalang. Taktik pertahanan parit diperkenalkan oleh Salman Al-Farisi (Salman dari Persia). Setiap Muslim yang cakap di Madinah termasuk Rasulullah sendiri bekerja menggali parit besar dalam waktu 6 (enam) hari. 

Posisi Perang Khandaq (Parit)

Parit itu hanya digali di sisi utara, karena bagian lain dari kota Madinah dikelilingi oleh gunung-gunung berbatu dan pepohonan, yang tidak dapat ditembus oleh pasukan besar (terutama pasukan berkuda). Wanita dan anak-anak dipindahkan ke pusat kota. Rasulullah mendirikan markas militernya di bukit Sala' dan mengatur pasukannya dari sana. Posisi ini juga memberikan keuntungan bagi Muslim jika musuh melewati parit. 

Pasukan terakhir yang akan mempertahankan kota terdiri dari 3.000 orang, dan termasuk semua penduduk Madinah yang berusia lebih dari 14 tahun, kecuali yahudi Bani Qurayza.

Pengepungan Madinah
Pengepungan Madinah dimulai pada Januari 627 dan berlangsung selama 1 (satu) bulan. Karena taktik pengepungan tidak biasa dalam perang Arab, Pasukan Sekutu tidak siap berurusan dengan parit yang digali oleh umat Islam. Pasukan Sekutu mencoba untuk menyerang dengan kavaleri dengan harapan dapat membuka sebuah jalan, tetapi orang-orang Madinah dengan sigap mencegah hal tesebut dari disisi lain parit.

Kedua pasukan berkumpul di kedua sisi parit dan menghabiskan dua atau tiga minggu bertukar penghinaan dalam bentuk syair, dan juga saling menyarang dengan panah.  Para pemimpin Quraish menjadi tidak sabar dengan kebuntuan ini. Sekelompok pasukan yang dipimpin oleh 'Amr ibn' Abd Wudd (yang dianggap setara dengan seribu orang dalam pertempuran) dan Ikrimah ibn Abi Jahal berusaha menerobos parit dan berhasil melakukan penyeberangan, melalui rawa-rawa daerah dekat bukit Sala.

Amr menantang kaum Muslim untuk berduel. Dan Rasulullah mengirim Ali ibn Abi Thalib untuk meladeninya. Kedua pejuang tersebut berduel dengan sengit namun Ali ibn Abi Thalib berhasil memenangkan duel tersebut. Pasukan Amr terpasksa mundur dalam keadaan panik dan kebingungan. Ali, sesuai dengan prinsipnya, membiarkan Pasukan Amr untuk mundur dan Ali tidak pernah mengejar musuh yang melarikan diri.

Penghkianatan Bani Qurayza
Pasukan sekutu berusaha membujuk Bani Qurayza untuk bergabung dan membatalkan perjanjian nya dengan Muslim serta menyerang kaum Muslim dari selatan. Awalnya Yahudi Bani Qurayza enggan bergabung dan memilih untuk tetap netral, namun setelah diyakinkan oleh Huyayy, Pemimpin Yahudi Bani Nadhir akhirnya Bani Qurayza bersedia untuk mendukung pasukan Sekutu dan melanggar perjanjiannya dengan Rasulullah .

Berita tentang penghkianatan Bani Qurayzah akhirnya samai kepad Rasulullah , dan Beliau segera mengirim 3 (tiga) orang Muslim untuk mengklarifikasi kabar tersebut ke Bani Qurayzah. Utusan Rasulullah tersebut menemukan bahwa perjanjian memang telah dilanggar dan sia-sia saja meyakinkan Bani Qurayza untuk kembali mematuhi perjanjian.

Krisis di Madinah
Rasulullah berusaha menyembunyikan pengetahuannya tentang Bani Qurayza, namun desas-desus segera menyebar tentang serangan besar-besaran di kota Madinah dari pihak Qurayza yang membuat moral kaum muslim Madinah jatuh.

Ibnu Ishaq berkata: Rasullah dan sahabat-sahabatnya dilanda ketakutan dan kegundahan yang luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dan musuh-musuh itu datang dari segala arah.

Al-Quran menggambarkan situasi dalam surat Al-Ahzab:
 
إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠  ١٠ هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا  ١١ وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا  ١٢ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ وَيَسۡتَ‍ٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارٗا  ١٣ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُواْ ٱلۡفِتۡنَةَ لَأٓتَوۡهَا وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا  ١٤ وَلَقَدۡ كَانُواْ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡ‍ُٔولٗا  ١٥ قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ وَإِذٗا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا  ١٦ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا  ١٧

10.  (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.
11.  Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.
12.  Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
13.  Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.
14.  Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.
15.  Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: "Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)". Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.
16.  Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja".
17.  Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

[Q.S. Al-Ahzab : 10-17]
Pada saat itu, Rasulullah menerima kunjungan dari Nuaym ibn Masud, seorang pemimpin dari Bani Ghafatan yang dihormati, ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam sementara kaumku belum ada yang tahu keislamanku. Oleh karena itu aku siap dengan tugas darimu.” Rasulullah memintanya untuk mengakhiri pengepungan dengan menciptakan perselisihan di antara pasukan sekutu.

Nuaym kemudian merancang strategi yang efisien. Pertama-tama Ia pergi ke Bani Qurayza dan memperingatkan mereka tentang niat dari pasukan sekutu. Jika pengepungan gagal, katanya, Pasukan sekutu tidak akan takut untuk meninggalkan orang-orang Yahudi, meninggalkan mereka di bawah kekuasaan Muhammad. Olehnya Qurayza harus menuntut para pemimpin Pasukan Sekutu sebagai sandera dengan imbalan kerja sama. Nasihat Nuaym ini sekaligus meredam kekhawatiran Bani Qurayza agar tidak dikhianati.

Selanjutnya Nuaym pergi ke Abu Sufyan, pemimpin utama pasukan sekutu, memberitahunya bahwa Bani Qurayza telah membelot ke Muhammad. Dia menyatakan bahwa Bani Qurayza itu bermaksud meminta Pemimpin-pemimpin pasukan sekutu sebagai sandera, seolah-olah sebagai imbalan atas kerja sama, tetapi mereka benar-benar akan menyerahkannya kepada Muhammad. Dengan demikian pasukan sekutu seharusnya tidak memberikan seorang pria pun sebagai sandera. Nuaym mengulangi pesan yang sama kepada pemimpin suku-suku lain di diantara pasukan Sekutu. © Sejarah Islam


Share This Article :
8718423275451420981