LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Ekspedisi Al-Mustaliq - Kemenangan dengan Serangan Kejutan

Sejarah-Islam.com
Ekspedisi Al-Mustaliq adalah Ekspedisi Militer Pasukan Muslim melawan suku Bani Mustaliq yang terjadi pada bulan Januari 627 Masehi atau Rajab tahun ke 5 Hijirah. Pada ekspedisi militer ini Rasulullah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai Pemimpin sementara di Madinah selama kepergian Beliau.

Sebelumnya, Rasulullah mendapat berita bahwa Bani Al-Mustaliq bersatu untuk memeranginya yang dipimpin oleh Al-Harits bin Abu Dhirar. Setelah mendengar berita tersebut, Rasulullah berangkat hingga tiba di sebuah sumur yang bernama Al-Muraisi. Mendengar kedatangan orang-orang Muslim, suku itu ketakutan, dan orang-orang Arab yang menemani mereka membelot dan melarikan diri. Abu Bakar dipercaya sebagai komandan Kaum Muhajirin (orang yg Hijrah), dan Sa'd bin 'Ubādah adalah komandan Anṣar (Orang yang membantu). 


Kedua tentara bertemu di sebuah sumur bernama Al-Muraisi, dekat laut, tidak jauh dari Mekah. Mereka bertempur dengan busur dan anak panah selama beberapa saat, dan kemudian kaum Muslim maju begitu cepat, mereka mengepung Bani Al-Muṣṭaliq dan menjadikan seluruh suku sebagai tahanan, beserta keluarga, kawanan dan kawanan domba mereka. Pertempuran berakhir dengan kemenangan penuh bagi umat Islam. 

Ali bin Abi Thalib membunuh beberapa orang Bani Al-Muṣṭaliq yang terluka, di antaranya adalah Malik dan putranya. Sekitar 200 (dua ratus) keluarga diambil sebagai tawanan, 200 (dua ratus) unta, 5000 (lima ribu) domba dan kambing, serta sejumlah besar barang-barang rumah tangga diambil sebagai barang rampasan. 

Jumlah korban di pihak Muslim hanya 1 (satu) orang, yang terbunuh secara tidak sengaja oleh orang Anshar. Salah seorang dari kaum muslimin yang berasal dari Bani Kalb, bernama Hisyam bin Shubabah gugur. Ia dibunuh oleh salah seorang Anshar dari kabilah Ubadah bin Ash-Shamit karena mengiranya musuh.

Pada saat Rasulullah  berada di dekat sumur Al-Muraisi', seorang pekerja Umar bin Khaththab dari Bani Ghifar bernama Jahjah bin Mas'ud yang menuntun kuda datang ke sumur tersebut. Di sana, Jahjah bin Mas'ud berebut air dengan Sinan bin Wabar sekutu Bani Auf bin Khazraj hingga keduanya terlibat perkelahian. Sinan bin Wabar berteriak: "Wahai orang-orang Anshar." Sedangkan Jahjah berteriak: "Wahai orang-orang Muhajirin."

Akibat peristiwa di sumur itu, Abdullah bin Ubay yang saat itu bersama beberapa orang dari kaumnya, di antaranya Zaid bin Arqam -anak muda - marah besar kemudian berkata:

"Sungguh mereka telah melakukannya. Mereka mengalahkan dan mengungguli kita di negeri kita. Demi Allah, aku tidak mengibaratkan apa yang dilakukan orang-orang hina Quraisy tersebut melainkan hal ini seperti kata pepatah neneng moyang dahulu: 'Gemukkan anjingmu niscaya ia memakanmu.' Demi Allah, jika kita sampai di Madinah, orang-orang mulia di sana akan mengusir orang-orang hina."

Abdullah bin Ubay bin Salul menemui beberapa orang dari kaumnya yang berada di sana. Kemudian berkata kepada mereka:

"Inilah yang kalian perbuat terhadap diri kalian. Setelah kalian memberi tempat mereka di negeri kalian dan membagi harta kalian untuk mereka. Demi Allah, andai kalian tidak memberikan harta kepada mereka, mereka akan minggat ke negeri yang lain."

Zaid bin Arqam mendengar hasutan Abdullah bin Ubay itu, lalu ia pergi kepada Rasulullah . Kejadian ini terjadi setelah Rasulullah berhasil menaklukkan Bani Mustaliq . Zaid bin Arqam melaporkan ucapan Abdullah bin Ubay kepada Rasulullah yang kala itu tengah bersama Umar bin Khaththab. Maka Umar berkata kepada Rasulullah : "Perintahkanlah Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya." Rasulullah berkata kepada Umar: "Bagaimana pendapatmu wahai Umar, apabila orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya. Tidak, namun perintahkanlah agar semua orang pulang."


Ketika itu Rasulullah tidak langsung pulang ke Madinah, namun para sahabat pulang. Pada saat Abdullah bin Ubai mengetahui bahwa Zaid bin Arqam melaporkan hasutannya kepada Rasulullah , ia pergi menghadap Rasulullah dan bersumpah dengan nama Allah seraya berkata: "Aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan Zaid bin Arqam."

Abdullah bin Ubay merupakan salah seorang tokoh penting di tengah kaumnya. Seorang sahabat Anshar berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, bisa jadi anak muda tersebut (Zaid bin Arqam) salah tanggap dan tidak hafal seluruh perkataan Abdullah bin Ubay." Dia mengatakan itu demi melindungi Abdullah bin Ubay.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah bertemu dengan Usaid bin Hudhair. Ia mengucapkan salam, dan berkata: "Wahai Nabi Allah, demi Allah sungguh engkau pulang pada saat yang tidak menyenangkan, yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini." Rasulullah bersabda kepada Usaid bin Hudhair: "Apakah engkau telah mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat kalian?" Usaid bin Hudhair berkata: "Siapa yang engkau maksud, wahai Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Abdullah bin Ubai bin Salul."

Usaid bin Hudhair berkata: "Apa yang ia katakan?" Rasulullah bersabda, "Ia menyangka bahwa jika ia tiba di Madinah, orang mulia di dalamnya akan mengusir orang hina." Usaid bin Hudhair berkata: "Wahai Rasulullah, engkaulah yang akan mengusirnya dari Madinah, bila engkau menghendakinya. Demi Allah, dialah orang yang hina sedangkan engkau orang yang mulia." Usaid bin Hudhair berkata lagi: "Wahai Rasulullah, bersikap lembutlah kepadanya. Demi Allah, pada saat engkau datang kepada kami, saat itu kaumnya meminta pendapatnya dalam posisinya sebagai raja dan kini ia beranggapan bahwa engkau telah merampas kekuasaannya."

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku bahwa Abdullah putra Ubay bin Salul menghadap Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, aku mendengar rencana engkau hendak membunuh ayahku karena ucapannya. Jika itu harus dilakukan, izinkan aku untuk membunuhnya, niscaya aku akan bawa kepalanya ke hadapanmu. Demi Allah, seluruh orang Khazraj mengetahui dengan baik bahwa di kalangan mereka tidak ada anak yang lebih berbakti kepada orang tuanya selain aku. Aku khawatir engkau menyuruh orang lain untuk membunuhnya. Maka jangan biarkan diriku melihat pembunuh ayahku berada di sekitar kita kemudian aku membunuhya. Jika itu terjadi, berarti aku membunuh orang Mukmin yang telah membunuh orang kafir. Karena itu akan menyebabkanku masuk neraka.”

Rasulullah bersabda: “Kita akan bersikap lembut dan bermu'amalah dengan baik selama ia hidup berdampingan bersama kita.”

Setelah peristiwa itu, jika Abdullah bin Ubay mengerjakan kesalahan, maka kaumnya sendiri yang mengecamnya, menindak, dan memarahinya. Rasulullah bersabda kepada Umar bin Khaththab ketika mendengar sikap kaum Abdullah bin Ubay seperti itu: "Bagaimana pendapatmu wahai Umar?. Demi Allah, jika aku membunuhnya saat engkau memintaku untuk membunuhnya, niscaya beritanya akan menggemparkan. Namun, jika sekarang engkau memintaku untuk membunuhnya, aku pasti akan membunuhnya."

Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, aku tahu bahwa perintah Rasulullah itu lebih agung keberkahannya daripada perintahku."

Pernikahan Rasulullah
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ketika tiba di Dzatul Jaisy, Rasulullah yang pada waktu itu dalam perjalanan pulang dari perang Bani Al-Mustaliq dan di sertai Juwairayah binti Al Haris, beliau menitipkan Juwairiyah kepada salah seorang dari kaum Anshar dan menyuruhnya untuk menjaganya sesudah itu beliau melanjutkan perjalanan hingga sampai di Madinah.

Kemudian datanglah ayah Juwairiyah, Al-Harits bin Abu Dhirar Pemimpin suku Bani Mustaliq, dengan maksud menebus putrinya. Pada saat ia berada di Al-Aqiq, ia mengamati unta-unta yang ia siapkan sebagai tebusan bagi putrinya dan ia pun tertarik dengan 2 (dua) unta dari unta-unta yang ada. Dan ia menyembunyikannya di salah satu lembah di Al-Aqiq.

Sesudah itu ia datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Muhammad, engkau tawan putriku dan ini sebagai tebusannya." Rasulullah bersabda: "Lalu mana 2 (dua) unta yang engkau sembunyikan di salah satu lembah di Al-Aqiq?" Al Harits bin Abu Dhirar berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang melihat kedua unta tersebut kecuali Allah." Maka Al-Harits masuk Islam yang diikuti dua anaknya dan sejumlah orang dari kaumnya. Kemudian dia menyuruh seseorang untuk mengambil dua unta yang dia sembunyikan dan diserahkan kepada Rasulullah, dan putrinya, Juwairiyah binti Al-Harits diserahkan kembali kepadanya.

Juwairiyah binti Al-Harits masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Lalu Rasulullah melamar beliau kepada ayahnya kemudian ayahnya menikahkan beliau dengan Juwairiyah dengan mahar 400 (empat ratus) dirham.


Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku bahwa setelah masuk orang-orang Bani Al-Mustaliq masuk Islam, Rasulullah mengutus Al-Walid bin Uqbah kepada mereka. Mereka mendengar kedatangan Al-Walid dan mendatanginya untuk menjemputnya. Namun ketika Al-Walid mendengar hal itu, ia takut, oleh karena itu ia pulang kepada Rasulullah dan melaporkan bahwa mereka hendak membunuhnya dan mencegahnya untuk mengambil zakat dari mereka.

Banyak di antara kaum muslimin yang mengusulkan agar mereka diperangi. Hingga Rasulullah pun berniat untuk menyerang mereka. Pada saat kaum muslimin telah siap, tiba-tiba datanglah utusan Bani Mustaliq kepada Rasulullah seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah mendapat kabar tentang kedatangan utusanmu kepada kami. Karena itulah, kami keluar kepadanya untuk menghormati dan menyerahkan zakat kepadanya, tapi ia buru-buru dan langsung kembali ke Madinah. Kemudian, kami mendapat kabar dia melaporkan padamu bahwa kami akan membunuhnya. Demi Allah, kami tidak memiliki niatan untuk tujuan itu."

Mengenai Al-Walid dan delegasi Bani Al-Mustaliq tadi, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ  ٦ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِۚ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ  ٧

6.  Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
7.  Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
(Q.S. Al-Hujurat : 6-7)
Peristiwa ini juga disebutkan dalam Hadits Bukhari dan juga oleh Imam Muslim serta dalam kitab-kitab sejarah islam dan lainnya, Wallahu A’lam © Sejarah Islam
Ekspedisi Bani Mustaliq
Tahun
627 M, 5 Hijriah
Lokasi
Al-Muraisi, sumur
Hasil
Ekspedisi Militer yang sukses besar
Pihak terlibat
Muslim
Suku Bani Mustaliq
Pemimpin
Nabi Muhammad
Al-Harits bin Abu Dhirar
Korban
1 Terbunuh
10 Terbunuh
200 Ditawan
Share This Article :
8718423275451420981