LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Al-Quran


Sejarah-Islam.com
Perang Badar terjadi pada tanggal 13 Maret 624 M atau 17 Ramadhan tahun ke-2 H. Perang ini merupakan perang besar pertama antara Umat Islam melawan orang-orang kafir. Pada perang ini jumlah pasukan kaum muslimin hanya berkisar 300 orang dan harus bertempur melawan pasukan kafir Quraish yang berjumlah sekitar 1000 orang.

Meski demikian, Kaum Muslimin berhasil memenangkan perang. Kemenangan tersebut terjadi atas bantuan Allah dengan mengirim para malaikat yang ikut berperang bersama kau muslimin, berkat do’a Nabi Muhammad sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763)

Perang Badar merupakan perang yang sangat terkenal dan merupakan salah satu dari beberapa pertempuran yang secara khusus disebutkan dalam Al-Quran. 

Pra Perang
Sebelumnya, kaum Muslim dan suku Quraish Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara tahun 623 hingga 624 Masehi, diantaranya seperti Perang Abwa, Perat Buwat, Perang ‘Ushairah, dan sebagainya. Meski demikian, Perang Badar ini merupakan pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua belah pihak.

Perang ini juga tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, dan saling berkaitan satu sama lain. Pada waktu itu Rasulullah mendapat kabar bahwa Abu Sufyan bin Harb baru saja tiba dari Syam bersama dengan kafilah dagang Quraisy yang membawa sejumlah besar kekayaan dan barang dagangan milik orang-orang Quraish. Kafilah ini terdiri dari tiga puluh atau empat puluh orang Quraish.

Perlu diketahui bahwa kota Madinah terletak di antara jalur utama perdagangan Mekkah - Syam. Meskipun kebanyakan kaum Muslim berasal dari kaum Quraish juga, mereka yakin akan haknya untuk mengambil harta para pedagang Quraisy Mekkah tersebut; karena sebelumnya orang kafir Quraish telah menjarah harta dan rumah kaum muslimin yang ditinggalkan di Mekkah (karena hijrah ke madinah) dan karena telah menyiksa, mengintimidasi, membunuh, dan mengusir umat Muslim dari tanah kelahiran mereka sendiri, sebuah penghinaan dalam kebudayaan Arab yang sangat menjunjung tinggi kehormatan.

Pada saat Rasulullah mendengar kabar bahwa Abu Sufyan tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar dari Madinah dan bersabda:
"Inilah kafilah dagang Quraish. Di dalamnya adalah harta kekayaan mereka. Oleh sebab itu, pergilah kalian kepada mereka! Semoga Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian!"

Kaum Muslimin menanggapi cepat seruan Rasulullah . Sebagian mereka merasa ringan tanpa beban untuk berangkat dan sebagian lainnya merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak mengira Rasulullah akan mendapatkan perlawanan perang.

Pada saat mendekati Hijaz, Abu Sufyan pemimpin kafilah dagang Quraih berusaha mengorek berita dan bertanya kepada musafir yang ia temui, karena khawatir mendapat serangan tak terduga. Akhirnya dia mendapatkan berita dari salah seorang musafir yang mengatakan kepadanya:
"Sesungguhnya Muhammad telah mengirim sahabat-sahabatnya untuk menyerangmu dan kafilah dagang yang kamu pimpin."

Mendengar berita tersebut, Abu Sufyan bersikap ekstra hati-hati. Ia menyewa Damdam bin Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah dan memerintahkannya untuk mendatangi orang-orang Quraisy serta mendesak mereka untuk menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu bahwa kaum muslimin kini telah menghadangnya. Damdam bin Amr Al-Ghifari segera bergegas ke Makkah.

Pertempuran
Pada tahun 624 M, Rasulullah mendapatkan informasi dari mata-matanya bahwa salah satu kafilah dagang yang paling banyak membawa harta pada tahun itu, dipimpin oleh Abu Sufyan dan dijaga oleh tiga puluh sampai empat puluh pengawal, sedang dalam perjalanan dari Syam menuju Mekkah. Mengingat besarnya kafilah tersebut, atau karena beberapa kegagalan dalam penghadangan kafilah sebelumnya, Beliau mengumpulkan pasukan dengan jumlah lebih dari 300 orang, ini adalah jumlah pasukan terbesar kaum Muslimin yang dapat dihimpun pada waktu itu.

Pergerakan menuju Badar
Rasulullah memimpin sendiri pasukannya dan membawa banyak panglima utamanya, termasuk pamannya sendiri, yaitu  Hamzah dan para calon Kalifah pada masa depan, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Kaum Muslim juga membawa 70 unta dan 3 kuda, yang berarti bahwa sebagian mereka harus berjalan kaki dan bergantian untuk mengendarai unta.

Ketika kafilah dagang Quraish mendekati Madinah, Abu Sufyan mulai mendengar mengenai rencana Muhammad untuk menyerangnya. Ia mengirim utusan yang bernama Damdam ke Mekkah untuk memperingatkan kaumnya dan meminta bala bantuan. Segera saja kaum Quraish Mekkah mempersiapkan pasukan sejumlah 900-1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang tersebut.

Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Alquran
Pergerakan pasukan menuju Badar.

Banyak bangsawan kaum Quraish Mekkah yang ikut bergabung, termasuk di antaranya Amr bin Hisyam, Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Umayyah bin Khalaf. Alasan mereka masing-masing berbeda, ada yang ikut karena mempunyai bagian dari barang-barang dagangan tersebut, yang lain ikut untuk membalas dendam atas kematian kerabatnya, dan sebagian kecil ikut karena berharap untuk mendapatkan kemenangan yang mudah atas kaum Muslim.

Pada saat itu pasukan Nabi Muhammad sudah mendekati tempat penyergapan yang telah direncanakannya, yaitu di sumur Badar, sebuah lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang sedang dalam rute perdagangan dari Syam. Tetapi, beberapa orang petugas pengintai kaum Muslim berhasil diketahui oleh mata-mata kafilah dagang Quraish tersebut dan Abu Sufyan kemudian langsung membelokkan arah kafilah dagang menuju Yanbu.

Rencana pasukan Muslim
Tidak lama kemudian, sampailah kabar kepada pasukan Muslim mengenai keberangkatan pasukan Quraish dari Mekkah. Rasulullah segera menggelar musyawarah, dan segera meminta pandangan sahabat-sahabatnya dan memberitahukan tentang orang-orang Quraish itu.

Abu Bakar berdiri, dan mengatakan sesuatu dengan baik. Umar bin Khaththab juga berdiri, dan mengatakan sesuatu dengan baik. Al-Miqdad bin Amr berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah, lanjutkan perjalanan sebagaimana yang Allah perlihatkan kepadamu kami pasti ikut bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana apa yang pernah diucapkan Bani Israel kepada Musa:
فَٱذۡهَبۡ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ  ٢٤
"Pergilah engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah, sesungguhnya kami hanya akan tinggal di sini”
(QS. Al-Ma'idah: 24).

Namun kami akan ikut perang bersamamu, dan bersama Allah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berjalan bersama kami ke Barki Al-Ghimad (sebuah kawasan di Yaman), kami akan bersabar denganmu hingga engkau sampai di sana. "Rasulullah bersabda kepada Al-Miqdad bin Amr dengan baik dan mendoakan kebaikan untuknya”.

Rasulullah kemudian meminta pendapat Kaum Anshar, yang mana mereka telah berbaiat kepada Rasulullah di aqabah dengan perjanjian:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu hingga engkau tiba di negeri kami (Madinah). Apabila telah tiba di negeri kami, maka engkau berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak-anak dan wanita-wanita kami."

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam khawatir apabila kaum Anshar berpandangan bahwa
pertolongan mereka kepada beliau itu hanya diberikan tatkala musuh yang datang menyerang
Madinah, dan mereka tidak mau berperang bersama beliau apabila musuh berada di luar Madinah.

Kemudian Sa'ad bin Muadz, salah seorang kaum Anshar, berkata:
"Kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu dan bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar, berjanji dan bersumpah untuk mendengar dan taat. Wahai Rasulullah, kerjakan apa yang engkau inginkan, kami senantiasa akan tetap bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau menyuruh kami menyelami laut ini, kemudian engkau menyelaminya, kami pasti menyelaminya bersamamu, dan tidak akan engkau dapatkan seorang pun di antara kami yang tidak ikut menyelam. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan dari kami apa yang menyejukkan matamu. Berangkatlah bersama kami bersamaaan dengan berkah Allah."

Rasulullah sangat gembira dengan ucapan Sa'ad bin Muadz dan menjadikannya semakin bersemangat. Beliau bersabda: "Berangkatlah, dan bergembiralah kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan dua kelompok kepadaku. Demi Allah, kini aku bagaikan melihat tempat kematian kaum itu”. Dengan demikian kaum Muslim terus melanjutkan pergerakannya menuju Badar.
Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Alquran
Lukisan yang menggambarkan pertemuan para pemimpin Muslim sebelum perang Badar.

Pada tanggal 11 Maret, kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari Badar. Hari berikutnya Rasulullah memerintahkan melanjutkan pergerakan pasukan ke wadi Badar dan tiba di sana sebelum pasukan Mekkah. Tatkala Rasulullah   di air yang paling dekat dengan Badar, barulah beliau berhenti di sana.

Beberapa orang dari Bani Salamah mengatakan bahwa Al-Hubab bin Al-Muzhir berkata kepada Nabi Muhammad : "Wahai Rasulullah, apakah tempat ini telah ditentukan Allah sehingga kita tidak boleh memindahkannya. Ataukah tempat ini hanya sebuah strategi dan taktik perang semata?"  Rasulullah menjawab: “Ini hanyah sebuah strategi dan taktik perang”.

Al-Hubab berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian ini bukanlah tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabatmu hingga tiba di air yang paling dekat dengan orang-orang Quraisy. Lalu berhentilah di sana, kemudian kita menutup dan menimbunnya, membangun kolam dan memenuhi dengan air barulah kita berperang melawan orang-orang Quraish dalam keadaan kita bisa minum sementara mereka tidak bisa seperti itu."

Rasulullah  bersabda: "Pendapatmu sungguh sangat tepat." Kemudian Rasulullah dan para sahabat pergi. Tatkala sudah tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. Beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian membangun kolam di dekat sumur itu dan memenuhinya dengan air.

Beliau kemudian memerintahkan agar sumur-sumur yang lain ditimbuni, sehingga pasukan Mekkah terpaksa harus berperang melawan pasukan Muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa.

Rencana pasukan Mekkah
Tidak banyak yang diketahui mengenai perjalanan pasukan Quraish sejak saat mereka meninggalkan Mekkah sampai dengan kedatangannya di perbatasan Badar, beberapa hal penting dapat dicatat: adalah tradisi pada banyak suku Arab untuk membawa istri dan anak-anak mereka untuk memotivasi dan merawat mereka selama pertempuran, tetapi tidak dilakukan pasukan Quraish Mekkah pada perang ini.

Selain itu, kaum Quraish juga hanya sedikit atau sama sekali tidak menghubungi suku-suku sekutu mereka yang banyak tersebar di seluruh Hijaz. Fakta-fakta itu memperlihatkan bahwa kaum Quraisy kekurangan waktu untuk mempersiapkan penyerangan tersebut, karena tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang mereka. Ketika pasukan Quraisy sampai di Juhfah, daerah selatan Badar, mereka menerima pesan dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagang telah aman berada di belakang pasukan tersebut, sehingga mereka dapat kembali ke Mekkah.

Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Alquran
Ilustrasi  Pasukan Muslim mendekati pasukan Quraisy Mekkah di dekat daerah 'Aqanqal.

Pada titik ini muncul perdebatan di kalangan pasukan Mekkah. Abu Jahal ingin melanjutkan perjalanan, tetapi beberapa suku termasuk Bani Zuhrah dan Bani 'Adi, segera kembali ke Mekkah. Sekelompok perwakilan Bani Hasyim  juga yang enggan berperang turut kembali ke Mekkah.

Terlepas dari hal tersebut, Abu Jahal tetap teguh dengan keinginannya untuk bertempur, dan bersesumbar "Kita tidak akan kembali sampai kita berada di Badar". Pada masa inilah Abu Sufyan dan beberapa orang dari kafilah dagang turut bergabung dengan pasukan Abu Jahal.

Hari pertempuran
Di saat fajar, pasukan bergerak menuju lembah Badar. Telah turun hujan pada hari sebelumnya, sehingga mereka harus berjuang ketika membawa kuda-kuda dan unta-unta mereka mendaki bukit 'Aqanqal (beberapa sumber menyatakan bahwa matahari telah tinggi ketika mereka berhasil mencapai puncak bukit). Setelah menuruni bukit 'Aqanqal, pasukan Mekkah mendirikan kemah baru di lembah. Saat beristirahat, mereka mengirimkan seorang pengintai, yaitu Umair bin Wahab untuk mengetahui letak barisan-barisan Muslim.

Umair melaporkan bahwa pasukan Muhammad berjumlah kecil, dan tidak ada pasukan pendukung Muslim lainnya yang akan bergabung dalam peperangan.  Akan tetapi ia juga memperkirakan akan ada banyak korban dari kaum Quraish bila terjadi peperangan (salah satu hadits menyampaikan bahwa ia melihat "unta-unta (Madinah) yang penuh dengan hawa kematian").

Hal tersebut semakin menurunkan moral kaum Quraish, karena adanya kebiasaan peperangan suku-suku Arab yang umumnya sedikit memakan korban, dan menimbulkan perdebatan baru di antara para pemimpin Quraish. Meskipun demikian, menurut catatan tradisi Islam, Abu Jahal membungkam semua ketidak-puasan dengan membangkitkan rasa harga diri kaum Quraish dan menuntut mereka agar menuntaskan hutang darah mereka.

Pertempuran diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding. Tiga orang Anshar maju dari barisan Muslim, akan tetapi diteriaki agar mundur oleh pasukan Mekkah, yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan Muslim Quraisy. Karena itu, kaum Muslim kemudian mengirimkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan Hamzah. Para pemimpin Muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin Mekkah dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun Ubaidah mendapat luka parah yang menyebabkan ia wafat.
Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Alquran - Posisi
Peta pertempuran. Pasukan Mekkah (Hitam) mendekati dari arah barat, sedangkan pasukan Muslim (Merah) mengambil posisi-posisi di depan sumur-sumur Badar.

Selanjutnya kedua pasukan mulai melepaskan anak panah ke arah lawannya. Dua orang Muslim dan beberapa orang Quraisy yang tidak jelas jumlahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung, Rasulullah telah memberikan perintah kepada kaum Muslim agar menyerang dengan menggunakan panah, dan bertarung melawan kaum Quraisy dengan senjata-senjata jarak pendek hanya setelah mereka mendekat.

Rasulullah mengambil segenggam kerikil, kemudian berjalan ke arah orang-orang Quraisy dan bersabda: "Wajah-wajah kaum nan buruk." Beliau meniup mereka dengan kerikil tersebut sambil bersabda kepada para sahabatnya: "Kencangkan serangan kalian!" Maka kekalahan itu terjadi. Allah membinasakan pemuka-pemuka Quraish yang terbunuh dan menawan pemuka-pemuka mereka yang lainnya.

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam dari
Ibnu Abbas Radhiyallahu Arthurm ia berkata: Para malaikat tidak ikut perang secara langsung kecuali pada Perang Badar. Selain Perang Badar, mereka menjadi penambah jumlah dan tidak langsung ikut bertempur.

Keterlibatan para malikat juga disebutkan dalam  Al-Quran sbb :
وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٖ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٞۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ  ١٢٣ إِذۡ تَقُولُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ أَلَن يَكۡفِيَكُمۡ أَن يُمِدَّكُمۡ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ  ١٢٤
123.  Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
124.  (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?"

Selain itu terdapat juga beberapa hadits yang membahas mengenai Malaikat Jibril dan peranannya di dalam pertempuran tersebut. Pada akhirnya pasukan Quraish Mekkah yang kalah kekuatan dan tidak bersemangat dalam berperang segera saja tercerai-berai dan melarikan diri. Pertempuran itu sendiri berlangsung hanya beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari.

Korban dan tawanan
Imam Bukhari memberikan keterangan bahwa dari pihak Qyraish Mekkah 70 (tujuh puluh) orang tewas dan 70 (tujuh puluh) orang ditawan. Sedangkan korban pada pasukan Muslim dinyatakan 14 (sebanyak empat belas ) orang tewas, yaitu sekitar 4% dari jumlah mereka yang terlibat peperangan.

Sumber-sumber tidak menceritakan mengenai jumlah korban luka-luka dari kedua belah pihak, dan besarnya selisih jumlah korban keseluruhan antara kedua belah pihak menimbulkan dugaan bahwa pertempuran berlangsung dengan sangat singkat dan sebagian besar pasukan Mekkah terbunuh ketika sedang bergerak mundur.

Selama terjadinya pertempuran, pasukan Muslim berhasil menawan beberapa orang Quraisy Mekkah. Perbedaan pendapat segera terjadi di antara pasukan Muslim mengenai nasib bagi para tawanan tersebut. Ada kekhawatiran bahwa pasukan Mekkah akan menyerbu kembali dan kaum Muslim tidak memiliki orang-orang untuk menjaga para tawanan. Sa'ad dan Umar berpendapat agar tawanan dibunuh, sedangkan Abu Bakar mengusulkan pengampunan.

Perang Badar - Perang yang diabadikan dalam Alquran - Pengejaran
Lukisan yang menggambarkan pasukan Muslim sedang melakukan pengejaran setelah pertempuran

Rasulullah akhirnya menyetujui usulan Abu Bakar, dan sebagian besar tawanan dibiarkan hidup, sebagian karena alasan hubungan kekerabatan (salah seorang adalah menantu Rasulullaj ), keinginan untuk menerima tebusan, atau dengan harapan bahwa suatu saat mereka akan masuk Islam.

Setidak-tidaknya dua orang penting Mekkah, Abu Jahal dan Umayyah, tewas pada saat atau setelah Pertempuran Badar. Demikian pula dua orang Quraisy lainnya yang pernah menumpahkan keranjang kotoran kambing kepada Muhammad saat ia masih berdakwah di Mekkah, dibunuh dalam perjalanan kembali ke Madinah. Bilal yang bekas budak Umayyah, begitu berkeinginan membunuhnya sehingga bersama sekumpulan orang yang membantunya bahkan sampai melukai seorang Muslim yang ketika itu sedang mengawal Umayyah.

Beberapa saat sebelum meninggalkan Badar, Rasulullah memberikan perintah agar mengubur sekitar dua puluh orang Quraisy yang tewas ke dalam sumur Badar. Beberapa hadits menyatakan kejadian ini, yang tampaknya menjadi penyebabkan kemarahan besar pada kaum Quraisy Mekkah. Segera setelah itu, beberapa orang Muslim yang baru saja ditangkap sekutu-sekutu Mekkah dibawa ke kota itu dan dibunuh sebagai pembalasan atas kekalahan yang terjadi.

Berdasarkan tradisi di Jazirah Arab mengenai hutang darah, siapa saja yang memiliki hubungan darah dengan mereka yang tewas di Badar, haruslah merasa terpanggil untuk melakukan pembalasan terhadap orang-orang dari suku-suku yang telah membunuh kerabat mereka tersebut. Pihak Muslim juga mempunyai keinginan yang besar untuk melakukan pembalasan, karena telah mengalami penyiksaan dan penganiayaan oleh kaum Quraisy Mekkah selama bertahun-tahun. Akan tetapi selain pembunuhan awal yang telah terjadi, para tawanan lainnya yang masih hidup kemudian ditempatkan pada beberapa keluarga Muslim di Madinah dan mendapat perlakuan yang baik; yaitu sebagai kerabat atau sebagai sumber potensial untuk mendapatkan uang tebusan. © Sejarah Islam

Perang Badar
Tahun
13 Maret 624 M / 17 Ramadhan 2 H
Lokasi
Badar, 100 km Baratdaya Madinah
Hasil
Kemenangan Telak Kaum Muslim
Pihak terlibat
Muslim Muhajirin
Quraish Mekkah
Tokoh dan pemimpin
Muhammad
Abu Jahal
Kekuatan
300-350 orang
900-1000 orang
Korban
14 tewas
70 tewas
70 ditawan
Share This Article :
8718423275451420981