LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Sejarah Awal Puasa Ramadhan

Perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan pertama kali turun pada tahun ke-2 Hijriah, yaitu setahun setelah Beliau dan para sahabatnya hijrah dari Mekkah ke Madinah. Perintah tersebut tertuang dalam Al-Quran surah Al-Baqarah : 183 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ  ١٨٣
183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Selain itu, pada tahun ke-2 Hijriah juga terjadi perang Badar, yang mana Perang tersebut merupakan perang pertama dan juga perang penentuan antara Umat Islam dan orang-orang kafir, Allah memberi mereka kemenangan besar di Badr, sehingga mereka menyambut Hari Raya Iedul Fitri pada tahun itu dengan dua kemenangan

Dalam kitab Fiqh As-Shiam, Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa pewajiban puasa pada tahun kedua hijriah berhubungan erat dengan fase dakwah Islam pada zaman Rasulullah . Sebagaimana kita ketahui bahwa fase Makkah adalah saat dimana wahyu diturunkan dalam rangka penanaman Akidah serta pemurnian tauhid kepada Allah

Sedangkan setelah hijrah atau disebut sebagai Fase Madinah, yang mana pada fase ini disyariatkanlah kepadanya beberapa kewajiban, digariskan beberapa ketentuan dan dijelaskan beberapa hukum termasuk di dalamnya Jihad dan puasa pada tahun kedua Hijriah.

DidalamTarikh Thabari disebutkan bahwa perintah berpuasa di bulan Ramadhan telah diumumkan sejak bulan Sya’jban pada tahun tersebut.Begitu pula satu atau dua hari sebelum Iedul Fitri pada tahun itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk mengeluarkan zakat fitrah. Dan pada hari Ied, Nabi dan para Sahabat keluar untuk mengerjakan solat Ied.

Sejak turunnya perintah berpuasa tersebut hingga ke hari ini, kaum Muslimin selalu melaksanakan kewajiban puasa, menahan lapar dan dahaga serta menahan hawa nafsu, sejak subuh hingga waktu maghrib sepanjang 29 atau 30 hari bulan Ramadhan. Tidak ada yang tidak menjalankannya kecuali orang-orang yang memiliki udzur syar’i di antara mereka atau orang-orang yang ada penyakit di hatinya (yang terakhir ini pun biasanya tidak melakukan pelanggarannya secara terbuka).

Hukum awal Puasa Ramadhan

Diriwaytakn dari Mu’adz bin Jabbal : bahwa Rasulullah hijrah ke Madinah dan pada hari ‘Asyura kemudian beliau berpuasa, juga beliau berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Kemudian Allah mewajibkan puasa Ramadlan dengan menurunkan Surah Al-Baqarah 183-184, maka saat itu ada yang berkeinginan untuk berpuasa, ada yang berbuka dan ada yang memilih untuk memberi makan orang miskin.

Kemudian Allah mewajibkan puasa bagi orang yang sehat lagi muqim ( tidak bepergian) dan menetapkan kriteria bagi yang memberi makan orang miskin yaitu orang yang sudah tua dan tidak mampu untuk berpuasa, dengan menurunkan ayat 185 dari Surah Al-Baqarah.
Sa’id bin Jubair berkata, “Dahulu, puasa yang diwajibkan atas umat sebelum kami adalah dari waktu ‘atamah (waktu shalat ‘Isya) sampai malam berikutnya, sebagaimana dalam awal-awal Islam.”

Pada awal-awal perintah puasa Ramadhan, waktu berbuka hanya pada waktu maghrib hingga isya sama seperti umat-umat terdahulu. Setelah isya maka wajib untuk berpuasa dan berbuka pada hari berikutnya di waktu maghrib.

Sehingga para sahabat biasa makan, minum, dan menggauli istrinya pada waktu sebelum tidur atau sebelum mengerjakan sholat Isya. Bila telah tidur atau shalat Isya maka para sahabat tidak bisa memenuhi kebutuhannya hingga maghrib berikutnya.

Ada kasus dimana seorang lelaki Anshar yang bekerja sepanjang hari. Tatkala tiba waktu berbuka istrinya menemuinya mengantarkan makan untuk berbuka. Namun didapati sang suami telah tidur karena kelelahan bekerja. Sehingga siangnya ditengah hari yang panas sang suami ini jatuh pingsan kelaparan dikarenakan taat pada perintah bahwa setelah tidur dilarang makan dan minum.

Hal yang sama juga di alami oleh beberapa sahabat seperti umar bin kaab bin malik. Hal ini cukup memberatkan para sahabat. Sehingga para sahabat mengadukan hal ini kepada Rasulullah . Maka turunlah surat Al baqarah ayat 187 yang memberikan kemudahan, dan juga sahur, serta mulai menahan diri dari makan, minum dan sebagainya, dimulai dari waktu terbit fajar dan berbuka ketika terbenamnya matahari, atau yang seperti kita dapati sekarang ini.

Puasa sebelum kewajiban Puasa Ramadhan
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Ketika sampai di Madinah (hijrah) beliau berpuasa di hari Asy -Syura dan berpuasa tiga hari setiap bulannya”.

Umat Islam pada waktu sebelum turunnya perintah Puasa Ramadhan, mereka melaksanakan puasa wajib tiga hari pada tiap bulannya.

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah  mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Lalu beliau bertanya tentang sebab mereka berpuasa pada hari tersebut. Orang-orang Yahudi itu menyatakan bahwa pada hari tersebut Allah telah menyelamatkan Nabi Musa Alaihis Salam dan kaumnya dari serangan Fir’aun. Oleh karena itu Nabi Musa Alaihis Salam melaksanakan shaum pada tanggal 10 Muharram sebagai tanda syukur kepada Allah.

Rasulullah mengulas keterangan mereka itu dengan menyatakan, “Sesungguhnya kami (umat Islam) adalah lebih berhak atas Nabi Musa dibanding kalian”. Lalu beliau melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram dan memerintahkan seluruh umat Islam supaya berpuasa pada tanggal tersebut.

Tidak lama kemudian pada tahun ke-2 hijriah, Allah menurunkan perintah wajibnya puasa Ramadhan, maka puasa pada tanggal 10 Muharram dan puasa 3 (tiga) hari setiap bulannya berubah hukumnya menjadi puasa sunnah. Sedangkan puasa Ramadhan sebulan penuh menjadi wajib. © Sejarah-Islam

Share This Article :
8718423275451420981