LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Terbunuhnya Ka'ab bin Al-Asyraf - Tokoh Yahudi Madinah

Ka'ab bin Al-Asyraf menurut teks sejarah Islam, adalah seorang pemimpin Yahudi di Madinah dan seorang penyair. Ayahnya berasal dari Bani Nabhan, sedangkan ibunya berasal dari Bani An-Nadhir. Ia terbunuh atas perintah Nabi Muhammad setelah perang Badar yaitu pada tahun ke-2 Hijriah

Ketika orang-orang Quraish kalah telak dalam perang Badar, Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah ke Madinah untuk memberi kabar gembira kepada kaum muslimin disana tentang kemenangan di Badar serta terbunuhnya tokoh-tokoh kaum Kafir Quraish.

Mendengar berita tersebut, Ka'ab bin Al-Asyraf berkata:
"Apakah berita ini benar? Benarkah Muhammad telah berhasil mengalahkan orang-orang tersebut? Padahal mereka adalah orang-orang Arab yang termulia dan raja manusia? Demi Allah, bila Muhammad telah benar berhasil mengalahkan orang-orang tersebut, maka lebih baik aku mati saja."

Takkala Ka'ab bin Al-Asyraf yakin tentang kebenaran berita tersebut, ia beranjak pergi dari Madinah menuju Makkah dan singgah di rumah Al-Muthalib bin Abu Wada'ah yang kemudian menjamu dan menghormatinya. Ka'ab bin Al-Asyraf memprovokasi orang-orang Quraish untuk menggempur Rasulullah dengan melantunkan syair-syair, dan menangisi penghuni sumur Badar, yaitu orang-orang Quraish yang tewas di perang Badar.

Setelah itu, Ka'ab bin Al-asyraf pulang ke Madinah dan menyanjung istri-istri kaum muslimin sehingga membuat mereka tidak nyaman karenanya.

Riwayat lain menyatakan bahwa alasan pembunuhan Ka'ab adalah karena ia telah berencana bersama dengan sekelompok orang Yahudi untuk membunuh Nabi Muhammad

Rasulullah bersabda : “Siapa yang berani memberi pelajaran pada Ka'ab bin Al-Asyraf atas namaku?” Muhammad bin Maslamah berkata:  "Wahai Rasulullah, saya siap bertindak atas namamu!!. Aku akan habisi dial!

Rasullah bersabda : "Silahkan ambil tindakan, bila engkau sanggup melakukannya."

Muhammad bin Maslamah pulang ke rumah dan mengurung diri di dalamnya selama tiga hari tanpa
makan dan minum, kecuali sekedarnya saja. Peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah
lalu beliau memanggilnya dan bersabda: "Kenapa engkau tidak makan dan minum?" Muhammad bin Maslamah menjawab: "Wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan perkataan kepadamu dan aku tidak tahu pasti apakah aku mampu menepatinya atau tidak?"

Rasulullah bersabda kepada Muhammad bin Maslamah:
"Sesungguhnya hal itu satu hal yang kau mesti engkau lakukan?" Muhammad bin Maslamah berkata: "Wahai
Rasulullah, kita harus mengatakan sesuatu padanya."
Rasulullah
bersabda: "Silahkan katakan apa yang terlintas untuk kalian katakan, karena itu bebas buat kalian lakukan."

Setelah itu terkumpullah sejumlah orang untuk membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf. Mereka adalah
Muhammad bin Maslamah, Silkan bin Salamah (saudara sesusuan Ka'ab bin Al-Asyraf), Abbad bin Bisyr, Al-Harts bin Aus, dan Abu Abs bin Jabr.

Sebelum mendatangi Ka'ab bin Al-Asyraf, mereka mengutus Silkan bin Salamah menemui Ka'ab Bin Al-Asyraf. Silkan bin Salamah pun segera menemuinya. Silkan bin Salamah berbicara beberapa saat dengan Kaab bin Al-Asyraf, melantunkan syair-syair, dan berkata kepada Ka'ab bin Al- Asyraf: "Sungguh celaka engkau wahai Ka'ab bin Al-Asyraf, aku datang menemuimu karena sesuatu yang ingin aku utarakan kepadamu dan dengan harapan engkau merahasiakannya”.
Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Pasti akan saya rahasiakan itu." Silkan bin Salamah berkata: "Sungguh kedatangan orang ini (Rasulullah ) kepada kita adalah petaka di atas petaka, orang-orang Arab memusuhi kita karenanya dan menyerang kita bersama-sama bersatu memusuhi kita, mereka memutus jalur dan jalan-jalan hingga orang-orang kita menjadi sengsara, setiap jiwa menderita, kita dan orang-orang tanggungan kita juga mengalami beban derita."

Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Aku anak Al-Asyraf, demi Allah, aku telah mengatakan padamu wahai Ibnu Salamah bahwa perkara ini akan berujung pada apa yang telah pernah aku katakan." Silkan bin
Salamah berkata kepada Ka'ab bin Al-asyraf: "Aku ingin engkau menjual makanan kepada kami dan
untuk itu kami gadaikan sesuatu kepadamu buat penguat untukmu sebagai balasannya engkau
berbuat baik dalam hal ini."

Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Apakah engkau mau mengadaikan anak-anak kalian kepadaku?"
Silkan bin Salamah berkata: "Tampaknva engkau hanya ingin menjelek-jelekkan kami. Sesungguhnya bersamaku ada teman-teman yang seide dan aku ingin datang menemuimu kembali bersama mereka kemudian engkau jual makanan kepada mereka, berbuat baik, dan kami gadaikan kepadamu senjata. Kami tidak akan melanggar janji."

Silkan bin Salamah mengatakan itu padanya agar Ka'ab bin Al-Asyraf tidak menolak teman-temannya apabila mereka datang dengan menghunus pedang. Kemudian Silkan bin Salamah menemui sahabat-sahabatnya, menceritakan keadaan Ka'ab Al-Asyraf dan meminta mereka untuk mengambil pedangnya masing-masing.

Lalu mereka pun berangkat untuk menghabisi Ka'ab bin Al-Asyraf, namun sebelum itu mereka berkumpul di tempat Rasulullah .

Sementara sahabat-sahabat tadi berjalan hingga sampai di benteng Ka'ab bin Al-Asyraf. Silkan bin Salamah
memanggil Ka'ab bin Al-Asyraf yang baru saja menikah. Ka'ab bin Al-Asyraf berdiri namun istrinya
memegang ujung selimutnya sambil berkata: "Engkau adalah seorang yang sudah terbiasa perang dan
orang yang terbiasa perang tidak akan pernah terjun ke medan perang pada jam-jam seperti ini."

Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: “Dia Silkan bin Salamah. Jika dia dapatkan aku tidur, pasti tidak akan
membangunkanku."
Istri Ka'ab berkata: "Sesungguhnya aku mengerti ada keburukan
pada suaranya."
Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: “Seorang pemuda ditantang untuk bertarung, pastilah ia
tak akan mundur."

Ka'ab bin Al-Asyraf menemui Silkan bin Salamah dan sahabat-sahabatnya, mereka terlibat
pembicaraan dalam beberapa saat. Sahabat-sahabat Silkan bin Salamah berkata: "Hai anak Al-Asyraf,
maukah engkau berjalan ke Syi'ab al-Ajuz (luar Madinah) kemudian kita berbincang di sana di sisa-sisa
malam kita ini?"

Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Jika kalian mau, mari silahkan saja!"  Mereka pun keluar Madinah sambil jalan-jalan sesaat. Silkan bin Salamah berkata kepada Ka'ab bin Al-Asyraf: "Tidak pernah aku dapatkan parfum yang lebih wangi dari parfummu!" Silkan bin Salamah berjalan sesaat dan malakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya, kemudian berkata: "Hantamlah musuh Allah ini!"

Sahabat-shabatnya pun memukuli Ka'ab bin Al-Asyraf dan pedang mereka menyerangnya secara bertubi-tubi, namun ternyata pedang-pedang itu tidak mempan untuk melukainya. Muhammad bin Maslamah berkata: "Tatkala aku dapatkan pedang sahabat-sahabatku tidak mempan sedikit pun untuk melukai Ka'ab bin Asyraf, aku ingat belati kecil di pedangku dan akupun mengambilnya. Musuh Allah, Ka'ab bin Al-Asyraf, berteriak dengan teriakan yang melengking sehingga tidak ada satu benteng di sekitar kami yang tidak menyalakan api, kemudian aku menusukkan tombak kecilku kebagian antara pusar dan kemaluannya dan menancapkannya hingga mengenai kemaluannya. Musuh Allah Ka'ab bin Al-Asyraf, jatuh tersungkur ke tanah.”

Al- Harits bin Aus, sahabatku terluka di kepala atau kakinya karena terkena tebasan pedang salah seorang di
antara kami sendiri. Kami membopong Al-Harits bin Aus dan membawanya kepada Rasulullah
di
akhir malam. Rasulullah ketika itu sedang shalat qiyamul lail. Kami ucapkan salam kepada beliau,
kemudian beliau keluar menemui kami. Kami terangkan kronologi terbunuhnya musuh Allah, Ka'ab
bin Al-Asyraf, dan terlukanya salah seorang dari kami, yakni Al-Harits bin Aus. Rasulullah mengobati
luka sahabat itu lalu kami masing-masing pulang ke rumah. Keesokan harinya orang-orang Yahudi
ketakutan karena pembunuhan kami terhadap musuh Allah, Ka'ab bin Al-Asyraf. Maka sejak saat itu
semua orang Yahudi tidak ada yang berani macam-macam lagi. © Sejarah Islam

Share This Article :
8718423275451420981