LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Ekspedisi Nakhlah - Perang di bulan Haram

Ekspedisi Nakhlah terjadi pada bulan bulan Januari 624 M atau Rajab Tahun ke-2 setelah Hijrah. Ini merupakan pencegatan kafilah dagang yang ketujuh dan merupakan serangan pertama yang berhasil. Abdullah bin Jahsh menjadi pemimpin serangan. Rasulullah Muhammad mengirim Abdullah bin Jahsy al-Asadi ke Nakhla, memimpin dua belas orang dari kaum Muhajirin berkendara enam ekor unta.

Setelah kembali dari Ekspedisi Safwan, Rasulullah mengirim Abdullah ibn Jahsy bersama 8 - 12 orang lainnya untuk memata-matai kafilah dagang Quraish. Abdullah bin Jahsy adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Dia berangkat bersama Abu Haudzaifah, Abdullah bin Jahsh, Ukasyah bin Mihshan, Utbah bin Ghazwan, Sa'ad bin Abi Waqqas, Rabi'ah bin Amir, Abdullah bin Waqid, dan Khalid bin al-Bukair.

Rasulullah memberi Abdullah bin Jahsy sebuah surat, tetapi tidak boleh dibaca sampai ia telah melakukan perjalanan selama dua hari dan kemudian melakukan apa yang diperintahkan dalam surat itu tanpa memberi informasi kepada rekan-rekannya.

Setelah dua hari, ia membuka surat itu, yang memintanya untuk melanjutkan perjalanan ke Nakhla, yang terletak di antara antara Mekah dan Thaif, menunggu kafilah-kafilah Quraisy dan mengamati apa yang mereka lakukan. Abdullah bin Jahsy, merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan serangan, mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa siapa memilih jalan syahid untuk bergabung dengannya dan barang siapa yang tidak bersedia dipersilakan untuk kembali ke Madinah.

Semua sepakat untuk mengikutinya (beberapa riwayat menyebutkan bahwa 2 Muslim memutuskan untuk kembali ke Madinah). Sa'ad bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan kehilangan seekor unta yang mereka kendarai secara bergiliran. Unta ini tersesat dan pergi ke Buhran, jadi mereka pergi mencari unta yang hilang  itu ke Buhran dan berpisah dari pasukan.

Di Nakhla, kafilah dagang Quraish membawa kismis (anggur kering), bahan makanan dan komoditas dagang lainnya. Kaum Muslim melakukan musyawarah di antara mereka sehubungan dengan bulan Rajab yang merupakan bulan haram (bersama dengan Dzul Hijjah, Dzulqaidah dan Muharram, di mana kegiatan perang dihentikan).

Salah satu anggota Abdullah bin Jahsy, Ukasyah bin Mihshan, telah mencukur kepalanya untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari perjalanan mereka dan untuk menipu Quraisy bahwa mereka akan melaksanakan Umrah, ketika itu merupakan bulan Rajab, di mana peperangan dilarang.

Ketika orang Quraisy melihat kepala gundul Ukasyah, mereka berpikir bahwa kelompok tersebut sedang dalam perjalanan untuk haji dan mereka merasa lega dan mulai mendirikan kemah. Karena saat itu sedang bulan Rajab, yang merupakan bulan haram, dimana ada larangan total bagi peperangan dan pertumpahan darah di Semenanjung Arab, Abdullah bin Jahsy pada awalnya ragu untuk menyerang kafilah.

Namun, setelah berunding, mereka tidak ingin kafilah dagang itu melarikan diri. Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perampasan. Sementara mereka kafilah dagang Quraisy sedang sibuk menyiapkan makanan, Muslim menyerang mereka dan terjadi pertempuran.

Dalam pertempuran singkat yang terjadi, Waqid bin Abdullah membunuh Amr bin Hadrami, pemimpin kafilah Quraisy, dengan panah. Naufal bin Abdullah melarikan diri. Para Muslim menangkap Utsman bin Abdillah dan al-Hakam bin Kaisan sebagai tawanan. Abdullah bin Jahsy kembali ke Madinah dengan harta rampasan dan dengan dua orang tawanan Quraisy.

Kaum Quraisy menyebarkan berita di mana-mana tentang perampokan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Muslimin di bulan suci (bulan haram). Karena serangan itu dilakukan tanpa perintah, Rasulullah sangat marah tentang apa yang telah terjadi. Dia memarahi mereka (kaum Muslim) untuk berperang di bulan suci, dengan mengatakan: Aku tidak menyuruh kalian untuk berperang di bulan haram.

Rasulullah Muhammad awalnya tidak menyetujui tindakan tersebut. Para kaum Quraisy menggunakan peluang emas ini untuk menuduh kaum muslimin telah melanggar peraturan. Tuduhan ini memusingkan para sahabat Nabi , sampai akhirnya turunlah firman Allah dalam Al-Quran yang membuat hati kaum Muslimin lega, sebagai berikut :
يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهۡرِ ٱلۡحَرَامِ قِتَالٖ فِيهِۖ قُلۡ قِتَالٞ فِيهِ كَبِيرٞۚ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَكُفۡرُۢ بِهِۦ وَٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ وَإِخۡرَاجُ أَهۡلِهِۦ مِنۡهُ أَكۡبَرُ عِندَ ٱللَّهِۚ وَٱلۡفِتۡنَةُ أَكۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَٰعُواْۚ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  ٢١٧

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
( QS al-Baqarah : 217)

Wahyu ini mengizinkan Muslim untuk melakukan perang bahkan selama bulan suci jika ada serangan terhadap mereka. Abdullah bin Jahsy membagi rampasan perang, tetapi Rasulullah menolak untuk mengambil bagiannya dan membayar uang darah (diyat) untuk lawan yang tewas. Adapun mengenai dua tawanan, uang tebusan ditawarkan untuk kebebasan mereka. Namun, Nabi menolak untuk menerima uang tebusan dari Quraisy sampai ia yakin bahwa dua sahabatnya, Sa'ad bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan, tidak terbunuh.

Ketika Sa'ad dan Utbah kembali tanpa luka, Rasulullah mepelaskan dua tawanan Quraish dengan pembayaran uang tebusan sebesar 1.600 dirham. Dikatakan bahwa sesaat setelah dibebaskan, Hakam bin Kaisan menjadi seorang Muslim. Tahanan lainnya, Utsman bin Abdullah kembali ke Mekah dan meninggal dalam keadaan kafir. Serangan ini adalah serangan pertama yang berhasil, juga merupakan serangan pertama di mana Muslim mendapat tawanan dan berhasil menimbulkan korban tewas.

Serangan ini juga membuat orang-orang Mekah khawatir, karena mata pencaharian dan kemakmuran mereka tergantung pada perdagangan ke Syam. Serangan ini juga telah membuat orang-orang Mekah terkejut karena waktu tersebut adalah bulan haram, dan menunjukkan berkembangnya kekuatan Muslim.

Mereka memutuskan untuk membalas, tetapi Quraish menahan serangan mereka untuk sementara waktu karena masih bulan Haram. Meski ada beberapa Muslim masih tinggal di Mekah, termasuk putri nabi, Zainab. Kaum Quraish tidak melakukan tindakan apapun terhadap kaum muslimin yang ada disana. © Sejarah Islam
Ekspedisi Nakhlah 
Tahun
Januari 624 M atau Syawal 2 H
Lokasi
Nakhla
Hasil
Kemenangan Kaum Muslim
Pihak terlibat
Muslim Muhajirin
Suku Quraish Mekkah
Tokoh dan pemimpin
Abdullah bin Jahsy
Amr Al-Hadrami
Kekuatan
8 - 12
4
Korban
0
1 tewas
2 ditawan
Share This Article :
8718423275451420981