LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Ekspedisi Dzatur Riqa' - Pensyariatan Sholat Khauf

Sejarah-Islam.com
Ekspedisi Dzatur Riqa' terjadi pada bulan Oktober 625 M, atau pada tahun ke-5 Hijriah. Namun menurut beberapa ahli sejarah lainnya, mereka percaya peristiwa ini terjadi setelah Perang Khaibar pada tahun 627 M, atau tahun ke- 7 Hijriah.

Rasulullah menerima kabar bahwa suku-suku dari Bani Ghatafan berkumpul di Dzatur Riqa dengan tujuan yang mencurigakan. Beliau kemudian keluar menuju Najed dengan membawa 400 atau 700 pasukan, dan mengamanatkan Abu Dzar Al-Ghifari – dalam riwayat lain (Utsman bin Affan) untuk memimpin di Madinah selama kepergian Beliau .


Rasulullah berjalan hingga tiba di Nakhl dan di tempat inilah Perang Dzatur Riqa terjadi. Menurut Ibnu Hisyam, Perang ini disebut Perang Dzatur Riqa', karena kaum Muslimin menjahit dan memperbaiki panji-panji perangnya di sana. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia disebut Perang Dzatur Riqa, karena Dzatur Riqa adalah nama pohon di kawasan tersebut.

Rasulullah membuat serangan mendadak pada mereka untuk membubarkan mereka. Suku Ghatafan melarikan diri ke pegunungan, meninggalkan para wanita mereka di belakang. Tidak ada pertempuran yang terjadi. Riwayat lain menyebutkan ketika di Dzatur Riqa', Rasulullah menghadapi pasukan Ghatafan dalam jumlah yang sangat besar. Namun perang tidak berkobar di antara mereka, karena masing-masing pihak sama-sama khawatir kepada pihak lain hingga Rasulullah mengerjakan Shalat Khauf bersama para sahabat.

Ibnu Hisyam berkata : Abdul Warits bin Said At-Tannuri, yang nama aslinya Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Yunus bin Ubaid berkata padaku dari Al-Hasan bin Abu Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah yang berkata tentang Shalat Khauf: Rasulullah melaksanakan Shalat Khauf dua raka'at bersama dua kelompok dengan cara bergiliran. Pertama beliau shalat dengan kelompok pertama lalu salam kemudian kelompok yang tadinya menghadap musuh datang lalu Rasulullah mengimami lagi shalat dua raka'at yang lain bersama mereka lalu salam.

Jadi Sholat Khauf (Sholat karena khawatir musuh akan menyerang) yaitu, Imam melangsungkan shalat bersama shaf pertama yang berdiri bersamanya, sedang shaf kedua menghadap musuh, kemudian imam ruku' dan sujud di ikuti shaf pertama, kemudian mereka bergerak mundur ke belakang dan mengganti shaf yang tadi menghadap musuh, kemudian shaf kedua maju ke depan, lalu imam ruku' dan sujud bersama mereka satu raka'at, kemudian masing-masing shaf shalat satu raka'at sendiri-sendiri. Jadi masing-masing shaf shalat satu raka'at bersama imam dan mereka shalat satu raka'at secara sendirian.

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Ubaid berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah bahwa salah seorang dari Bani Muharib yang bernama Ghaurats berkata kepada kaumnya yaitu Ghatafan dan Muharib: “Apa kalian mau Muhammad aku bunuh demi kalian?” Kaumnya menjawab: "Ya, namun bagaimana engkau bisa membunuhnya?" Ghaurats berkata: "Aku akan menjebaknya." Kemudian Ghaurats pergi menghadap Rasulullah yang ketika itu duduk, sedangkan pedang beliau berada di pangkuannya. Ghaurats berkata: "Wahai Muhammad, boleh aku lihat pedangmu ini." Rasulullah menjawab, "Ya, silahkan saja." Pedang Rasulullah tersebut berhiaskan perak, sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam.


Ghaurats lalu menghunusnya dari sarungnya. Kemudian ia memain-mainkannya dan bermaksud membunuh Rasulullah namun Allah menggagalkan usahanya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, apa kau takut padaku?" Rasulullah bersabda : "Tentu saja sama sekali tidak, apa yang harus aku takutkan darimu?" Ghaurats berkata: "Apakah engkau tidak takut padaku padahal di tanganku ada sebilah pedang?" Rasulullah bersabda: "Aku tidak takut, karena Allah selalu melindungiku." Ghaurats pun berjalan dan mengembalikan pedang itu kepada Sang Nabi. Maka setelah itu Allah menurunkan ayat berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ هَمَّ قَوۡمٌ أَن يَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ فَكَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  ١١

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. [Q.S. Al-Maidah : 11]
Beberapa sejarawan Islam berpendapat bahwa, ekspedisi ini terjadi di Najed (sebuah daerah dataran tinggi di Semenanjung Arab) pada bulan Rabi’ul Akhir atau Jumadil Ula, tahun ke-4 Hijriah (atau awal 5 Hijriah). Mereka memperkuat klaim mereka dengan mengatakan bahwa secara strategis diperlukan untuk melakukan ekspedisi  ini untuk memadamkan pemberontakan suku Badui guna meminimalisir gangguan ketika menghadapi pertempuran yang telah disepakati dengan kaum musyrikin Mekah, yaitu Perang Badar Terakhir.

Baca Juga : Perang Badar Terakhir - Tindakan Pengecut Kafir Quraish

Namun pendapat yang mashur, adalah bahwa Ekspedisi Dzatur Riqa terjadi setelah Perang Khaibar. Hal Ini didukung oleh fakta bahwa Abu Hurairah dan Abu Musa Al Ash’ari menyaksikan peristiwa ini. Abu Hurairah memeluk Islam hanya beberapa hari sebelum Perang Khaibar, dan Abu Musa Al-Ash'ari kembali dari Abyssinia ( Ethiopia ) dan bergabung dengan Rasulullah di Khaibar, Wallahu ‘Alam. © Sejarah Islam
Ekspedisi Dzatur Riqa’
Tahun
625 M atau 627 M
Lokasi
Dzatur Riqa’
Hasil
Musuh Lolos, beberapa sumber menyatakan bahwa Perjanjian telah disepakati
Pihak terlibat
Muslim
Sekutu dari Bani Muharib, Bani Talabah dan Bani Ghatafan
Tokoh dan pemimpin
Muhammad
Tidak diketahui
Kekuatan
400 atau 800 orang
Tidak diketahui
Share This Article :
8718423275451420981