LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Ekspedisi Badar Terakhir - Tindakan Pengecut Abu Sufyan

Sejarah-Islam.com
Ekspedisi Badar terakhir adalah peristiwa yang terjadi sekitar bulan April tahun 626 M atau pada bulan sya’ban tahun ke 4 Hijriah, setahun setelah Perang Uhud. Ekspedisi ini adalah yang ketiga kalinya Rasulullah memimpin pasukan menuju Badar, sekaligus yang terakhir (ke Badar).  

Ekspedisi ini juga dianggap oleh sebagian sejarawan membantu umat Islam untuk mendapatkan kembali reputasi dan martabat mereka, serta berhasil menunjukkan kehadiran mereka di seluruh jazirah Arab setelah kekalahan di Perang Uhud.

Menurut Literatur Sejarah Islam, Ibnu Ishaq berkata : Saat bulan Sya'ban, Rasulullah meninggalkan Madinah untuk memenuhi janji dengan Abu Sufyan bin Harb hingga tiba di Badar.


Rasulullah menunggu Abu Sufyan di Badar selama 8 (delapan) malam. Sedangkan Abu Sufyan sendiri keluar meninggalkan Mekah bersama pasukannya hingga tiba di Majinnah dari arah Zhahran. Sebagian riwayat  lainnya menceritakan bahwa Abu Sufyan dan anak buahnya berjalan hingga ke Usfan, kemudian mereka memilih pulang kembali ke Makkah.

Menurut sejarawan barat  William Muir, kedua  pasukan telah berjanji akan bertemu lagi di Badar, namun pada tahun itu terjadi kekeringan hebat, Abu Sufyan pemimpin pasukan Mekah tidak ingin berperang di musim itu, dan ingin menunda pertempuran di musim lain, musim yang lebih berlimpah.

Jadi Abu Sufyan memberi tahu seorang pria bernama Nuam dari suku yang netral agar memberikan laporan berlebihan tentang pasukan Mekah untuk menghalangi dan menakut-nakuti Rasulullah dan sahabatnya. Laporan Nuam yang dibesar-besarkan membuat takut beberapa Muslim. Rasulullah menolak sikap pengecut ini dan menyatakan sumpah bahwa Beliau akan pergi ke Badar, bahkan jika pergi sendirian. 


Kata-kata yang berani itu membangkitkan semangat para sahabat sedemikian rupa sehingga Beliau bisa mengumpulkan kekuatan dua kali lipat dari sebelumnya.

Rasulullah berangkat ke Badar bersama 1.500 pasukan dan 10 penunggang kuda, dan  Ali bin Abi Thalib sebagai pembawa bendera / panji. Abdullah bin Rawahah diberi tugas sebagai Imam di Madinah selama kepergian Beliau ke Badar, ketika sampai di Badar, kaum Muslim tinggal di sana menunggu orang-orang kafir Quraish Mekah datang.

Pasukan Abu Sufyan terdiri dari 2.000 pasukan dan 50 penunggang kuda. Mereka mencapai Mar Az-Zahran, agak jauh dari Mekah, dan berkemah di tempat mata air bernama Mijannah. Dengan langkah yang enggan, berkecil hati dan sangat takut akan konsekuensi dari pertarungan yang ada didepan mata, Abu Sufyan menoleh ke orang-orangnya dan mulai mengatakan hal-hal pengecut, untuk mencegah orang-orangnya pergi berperang, dengan mengatakan :

"Wahai suku Quraish! Tidak ada yang akan memperbaiki kondisi Anda sekarang kecuali tahun yang berbuah, tahun di mana hewan-hewan Anda memakan tanaman dan semak-semak dan memberi Anda susu untuk diminum. Dan saya melihat bahwa ini adalah tahun tanpa hujan, oleh karena itu saya kembali sekarang, dan saya sarankan Anda untuk kembali bersamaku. " 
[Ibnu Hisyam 2/209]

Pasukannya ternyata juga memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang sama, karena mereka segera mentaatinya tanpa ragu sedikit pun. Kaum Muslim, yang saat itu telah tiba di Badar, tinggal disana selama 8 malam menunggu musuh mereka. Ketika orang-orang kafir Mekah menolak untuk bertempur, keseimbangan kekuatan militer sebenarnya telah bergeser kepada pihak Muslim, dengan demikian umat Islam kembali mendapatkan reputasi militer mereka dan juga  martabat mereka.


Baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits sebenarnya telah menceritakan tentang hal ini, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali-Imran ayat : 173-176  sebagai berikut :

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ  ١٧٣ فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ  ١٧٤ إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ  ١٧٥ وَلَا يَحۡزُنكَ ٱلَّذِينَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡكُفۡرِۚ إِنَّهُمۡ لَن يَضُرُّواْ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ أَلَّا يَجۡعَلَ لَهُمۡ حَظّٗا فِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ  ١٧٦

173.  (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".
174.  Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
175.  Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
176.  Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Shahih Bukhari, disebutkan bahwa :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ أُرَاهُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ } قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا { إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus aku melihatnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari Abu Hashin dari Abu Adl Dluha dari Ibnu 'Abbas Hasbunallah wa ni'mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi ketika orang-orang kafir berkata; "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."  [Shahih Bukhari No. 4197]
Abdullah bin Rawahah berkata tentang Perang Badar Terakhir tersebut :

Kami berjanji pada Abu Sufyan untuk kembali bertemu di Badar
Tapi kami dapatkan dia tidak jujur dan iapun tak menepati janji
Aku bersumpah, andai engkau tepati janji perjumpaan dengan kami
Niscaya engkau pulang dirundung hina dan kehilangan para kerabat
Di sana, kami biarkan tubuh Utbah dan anak-nya
Demikian pula Amr dan Abu Jahal terbunuh tewas
Kalian membangkang Rasulullah, celakalah agama kalian
Dan urusan buruk kalian yang sesat itu
Walaupun kalian bersikap keras padaku
Aku tetap katakan keluarga dan hartaku menjadi tebusan bagi Rasulullah
Kami mentaatinya dan tidak menggantinya dengan orang lain
Ia adalah cahaya dan penunjuk kami di gelapnya malam

Akhirnya setelah 8 (delapan) malam menunggu di Badar, Beliau dan sahabatnya kembali ke Madinah tanpa adanya pertempuran sedikitpun. Wallahu ‘Alam © Sejarah Islam

Ekspedisi Badar Terakhir
Tahun
626 M atau Sya’ban, 4 Hijriah
Lokasi
Badar
Hasil
Kemenangan Kaum Muslim
·      Rasulullah tinggal di Badar selama 8 malam
·      Abu Sufyan dan Pasukannnya melarikan diri karena ketakutan
Pihak terlibat
Muslim
Suku Quraish
Tokoh dan pemimpin
Nabi Muhammad
Abu Sufyan
Kekuatan
1500 pasukan
10 Penunggang kuda
2000 pasukan
50 Penunggang kuda
Share This Article :
8718423275451420981