LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Timur Lenk

Timur Lenk (1336-1405) juga dikenal sebagai Timur Agung, Timur Manke, atau di Eropa sebagai Tamerlane dan Tamburlaine, dalam bahasa Persia dikenal sebagai “Temur-i-lang” dan atau Temür dalam bahasa Turki. Ia adalah panglima perang Mongolia abad ke-14 (empat belas) dan pendiri kerajaan Timurid atau Dinasti Timurid.

Timur Lenk lahir di Kesh, sekarang dikenal sebagai Sachrisabz (area Samarkand, Uzbekistan). Temur-i-lang dalam bahasa Persia berarti Timur si Pincang. Timur mendapat julukan ini karena kaki kanannya yang lumpuh terkena anak panah pada pertempuran tahun 1363. Nama “Timur” sendiri berasal dari bahasa Chagatai yang berarti “besi”.

Timur menghabiskan seluruh hidupnya terutama di medan perang dan jarang tinggal di tempat yang sama selama lebih dari beberapa tahun. Dia berhasil menciptakan kerajaan baru di atas pondasi Kekaisaran Mongolia yang runtuh.

Rekonstruksi wajah Timur Lenk

Meskipun ia jenius dalam hal militer (tidak pernah kalah berperang setelah berkuasa pada tahun 1370), Timur tidak mahir dalam menjalankan pemerintahan, sehingga sering kali wilayah yang telah ia kuasai memberontak dan mengharuskannya untuk merebut kembali wilayah tersebut. 

Dalam membasmi para pemberontak, ia biasanya bertindak dengan sangat kejam dan tidak manusiawi, seperti membangun menara dengan kepala manusia yang dipenggal dari penduduk wilayah yang memberontak. Hal ini membuat Timur menjadi terkenal, ditakuti dan disegani di Cina hingga ke Eropa Barat. Menurut perkiraan sejarawan ada sekitar 17 juta orang terbunuh dalam ekspedisi militernya.

Timur meninggal pada musim dingin tahun 1405 di kota Otrar, Kazakhstan, saat ia melawan musuh terbesarnya, Dinasti Ming Cina. Setelah kematiannya, kerajaan Timur segera terpecah belah dan dengan menghilang dari peta. Meski begitu, namanya kadang-kadang disejajarkan dengan para penakluk terkenal seperti Alexander Agung dan Jenghis Khan. 

Setelah kemerdekaan Uzbekistan dari Uni Soviet, hal-hal yang berkaitan dengan Timur barulah mendapat lebih banyak perhatian, sebab Ia dianggap sebagai pahlawan di sana, karena di bawah pemerintahan Timur, wilayah Uzbek berkembang pesat tidak seperti sebelumnya.

Asal Usul
Timur lahir pada tanggal 9 April 1336 di dekat Kesh (sekarang Sachrisabz), sekitar 80 kilometer selatan Samarkand di Transoxania. Ayahnya Taraghay adalah kepala suku Barlas, suku Barlas sendiri merupakan keturunan dari pasukan / kelompok awal Jenghis Khan, tetapi berbaur dengan penduduk asli Transoxania dan mengadopsi bahasa Turki. 

Selain itu suku Barlas juga telah meninggalkan cara hidup nomaden dan memilih menetap disebuah wilayah, membangun rumah seperti orang-orang pada umumnya, dan mereka juga telah memeluk agama Islam.

Timur menghabiskan tahun-tahun pertama hidupnya di Chagatai Khanate. Dimana pada waktu itu situasi wilayah, politik, dan agama di Chagatai Khanate terbagi kedalam 2 (dua) kelompok; di bagian timur, Moghulistan (Tanah Mongol) yang dibangun di atas adat istiadat lama Mongolia, dan di sebelah barat, Transoxania yang di bawah pengaruh Islam dan adat istiadat Turki.

Timur, yang berasal dari keturunan Mongolia, tinggal di bagian barat yang dikuasai oleh seorang amir lokal, bernama Kazgan. Selama masa pemerintahannya, Timur berkembang menjadi seorang pemuda yang agresif, terampil berkuda dan berkelahi.  Karena keterampilan dan kecerdasannya, ia ditugaskan menajdi ketua/pemimpin pasukan kecil.

Wilayah Chagatai Khanate

Ketika Timur berusia 21 tahun, Kazgan terbunuh. Setelah pembunuhan ini, muncul kekacauan di wilayah Transoxania, dimana berbagai suku berusaha merebut kekuasaan. Memanfaatkan kerusuhan itu,  Tughlugh dari Moghulistan menyerbu Transoxania pada Maret 1360. Meskipun sebagian besar kepala suku menyatakan dukungan mereka untuk Tughlugh, Paman Timur yang bernama Hajji Beg dari suku Barlas, menolak mendukung Tughlugh dan melarikan diri ke Khorasan.

Setelah pasukan Tughlugh meninggalkan Transoxania, para amir merebut kekuasaan lagi dan Hajji Beg kembali. Timur tanpa ragu segera menyerang pamannya, dan meskipun ia memenangkan pertempuran, pasukannya meninggalkannya. Hajji Beg diangkat kembali sebagai kepala suku Barlas dan memaafkan perbuatan Timur yang memberontak. 

Setelah itu, Tughlugh kembali menyerang pada tahun 1361, ia memutuskan untuk menyingkirkan para amir. Hajji Beg kemudian melarikan diri ke Khorasan lagi, namun ia dibunuh disana. Timur menghukum para pelaku dan mengambil alih gelar Haji. Tughlugh puas dengan kinerja Timur dan menunjuknya sebagai panglima di bawah putranya Ilyas Khoja, dan dianugerahi gelar gubernur.

Pada kenyataannya, Timur sudah berencana untuk memberontak melawan bangsa Mongol pada waktu itu, dan ia mengadakan aliansi dengan cucu Kazgan, Amir Hussein. Timur dan Hussein mampu mengalahkan Ilyas Khoja dalam pertempuran, setelah itu mereka pergi ke Transoxania. Namun, Khoja kembali pada 1364 dan berhasil mengalahkan mereka. Hussein dan Timur melarikan diri, meninggalkan seluruh Transoxania terbuka untuk Ilyas Khoja yang saat itu mengepung Samarkand. Namun, keadaan berubah ketika ulama Islam menyeru orang-orang Samarkand untuk berjihad melawan penyerbu. Ilyas kehilangan 2.000 orang dan terpaksa mundur akibat penyakit menular yang melanda (epidemi).

Perjuangan Saudara Ipar
Bersama, Timur dan Hussein akhirnya berhasil membebaskan Transoxania. Timur kemudian menikahi saudari perempuan Husein dan sepakat membagi wilayah tersebut untuk mereka berdua. Hussein tampaknya memiliki kekuasaan lebih besar sebagai penguasa Transoxania dengan menguasai kota-kota seperti Balch, Konduz, Khulm, dan Kabul. Namun, Timur yang hanya menguasai kota Sachrisabz dan Qarshi , memiliki kepribadian/kepimimpinan yang lebih kuat. 

Melalui kebijakan yang cerdas, Timur menjadi orang paling populer di Samarkand sementara Hussein memiliki reputasi buruk. Hubungan Keduanya semakin menjauh dan terpisah dan setelah kematian istri Timur, perjanjian damai dilanggar. Timur menyerang Hussein dan segera mendominasi pertempuran, tapi ketika melihat pasukan Hussein yang jauh lebih besar, ia mundur ke Khorasan. 

Setelah invasi Mongolia lainnya mengancam, Timur dan Hussein berdamai dan memulihkan perjanjian. Namun, setelah orang-orang Mongol diusir, perang antar keduanya terus berlanjut. Timur menerima dukungan dari amir dan pangeran lain dari wilayah tersebut akhirnya berhasil mengalahkan Hussein.

Timur menerima utusan sewaktu pengepungan kota  Balkh tahun 1370.

Salah seorang pasukan Timur yang memiliki dendam terhadap Hussein, menagkap Hussein dan menjadikannya sebagai tahanan. Timur membebaskan dan memberikan bekal kepada mantan iparnya tersebut untuk dapat berziarah ke Mekah. Hussein dibebaskan dan melarikan diri, tetapi pasukan yang dendam, menangkapnya dan membunuhnya.

Penguasa Transoxania
Setelah kematian Hussein, Timur yang berusia 34 tahun adalah satu-satunya penguasa dominan di Transoxania dan pada tahun 1370 ia menyatakan Samarkand sebagai ibukotanya. Karena takut akan tindakan balas dendam oleh keluarga Hussein, ia membunuh putra-putranya dan para pengikutnya. Sesuai adat Mongolia kuno, Timur membuat semua kepala suku bersumpah dan hanya menggunakan gelar “Amir Al Kabir” (Amir Besar) daripada gelar Khan. Dia juga menunjuk keturunan Jenghis Khan, Suyurghithmic untuk memerintah atas nama kerajaannya.

Timur tidak tinggal lama di Samarkand, pada awal 1371 ia perperang melawan Hussein Sufi pendiri dinasti Sufi, yang telah merebut kekuasaan di Chorasmia dan, kota-kota Chagatai Khanate yang memberontak selama kekacauan di Transoxania. 

Timur menuntut seluruh Chagatai dan menuntut kembalinya kota-kota. Namun tuntutan nya ditolak, setelah itu Timur menyerang kota Kath dan mengepung kota Urgench, dimana Hussein Sufi bermarkas.

Hussein Sufi meninggal selama pengepungan, setelah itu saudaranya Yusuf Sufi menggantikannya. Dia segera berdamai dengan Timur dengan mengembalikan kota-kota itu, dan menawarkan putrinya sebagai calon pengantin Jahangir, putra sulung Timur.

Sejak Timur merebut kekuasaan pada 1370, terjadi pertempuran terus-menerus dengan Moghulistan. Setelah kematian Tughlugh, Qamar ud-Din membunuh Ilyas Khoja dan kemudian merebut kekuasaan. Dia menyatakan dirinya sebagai Khan, yang direspon Timur dengan menyerbu Moghulistan. Serangan ini sengaja ia lakukan untuk melindungi Transoxania dari kemungkinan serangan mongol di masa depan. Dia dan Jahangir mengalahkan Qamar dan setelahnya kembali ke Samarkand. Ketika dia tiba di Samarkand putranya Jahangir telah meninggal dunia.

Tochtamysh
Tochtamysh adalah seorang pangeran Mongolia yang merupakan keponakan dari Urus Khan, Pemimpin White Horde. Ia melarikan diri dan meminta suaka kepada Timur pada tahun 1376 setelah terlibat konflik dengan pamannya. Timur senang bahwa keturunan Jenghis Khan mengunjunginya dan dengan senang hati membantunya.

Urus Khan menyerang Tochtamysj dua kali, tapi berhasil dipukul mundur berkat bantuan Timur. Pada 1377 Urus Khan menuntut ekstradisi Tochtamysh. Timur menolak dan Urus Khan kembali menyerang namun dikalahkan kembali. Urus Khan meninggal tak lama kemudian dan digantikan oleh putra-putranya yang tetap memusuhi Tochtamysj dan Timur. 

Dengan bantuan Timur, pada tahun 1378 Tochtamysh akhirnya berhasil memenangkan perang dan menjadi Khan baru White Horde. Kemudian ia kembali berperang melawan Mamai, pemimpin Blue Horde. Tochtamysj berhasil mengalahkan Mamai berkat bantuan Timur, dan kemudian menyatukan “Blue Horde” dan “White Horde“ menjadi “Golden Horde”. Timur berharap Tochtamysj akan menjadi sekutu bawahannya dimasa depan, namun kenyataan berkata lain. © Sejarah Islam

Bersambung ke Timur Lenk – Part 2


Share This Article :
8718423275451420981