LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Seljuk


Kesultanan Seljuk adalah sebuah Kerajaan Muslim-Sunni yang berdiri pada abad pertengahan, yaitu sekitar tahun 1037 sampai 1194. Wilayah Kesultanan Seljuk  membentang dari Asia Kecil hingga ke Hindu Kush, dan dari Asia Tengah hingga ke Teluk Persia.

Orang-orang Seljuk berasal dari suku Qiniq cabang dari Turki Oghuz,  yang pada abad ke-9 hidup di pinggiran dunia Muslim, di utara Laut Kaspia dan Laut Aral di Yabghu Khaganate, mereka dari konfederasi Oghuz, di stepa  Kazakh Turkestan. Selama abad ke-10, karena berbagai peristiwa, Oghuz telah melakukan kontak dekat dengan kota-kota Muslim. 

Ketika Seljuk pemimpin klan Seljuk, berselisih dengan Yabghu, kepala suku tertinggi Oghuz, ia memisahkan klannya dari Oghuz dan mendirikan kemah di tepi barat Sungai Syr Darya, dan sekitar tahun 985, Seljuk kemudian memeluk agama Islam.


Wilayah Kekuasaan Dinasti Samaniah (819-999)

Pada abad ke-11, kaum Seljuk bermigrasi dari tanah leluhur mereka ke daratan Persia di wilayah Khurasan. Penguasa dinasti Samaniah saat itu memberikan wilayah khusus untuk para Seljuk ini dengan imbalan membantu mereka berperang melawan musuhnya yaitu Dinasti Qarakahanid. Namun Dinasti Samaniah dapat dikalahkan oleh Dinasti Qarakhanid yang kemudian berlanjut dengan munculnya Dinasti Ghaznavid yang ikut serta dalam perebutan kekuasaan di wilayah tersebut sebelum mendirikan basis independen mereka sendiri.

Kesultanan Seljuk Raya

Togrul Bey (990 -1063) adalah cucu dari Seljuk. Dia menyatukan para pejuang Turki dari Stepa Besar Eurasia ke dalam suatu konfederasi suku-suku, kemudian dia dan saudaranya Cagrı berhasil merebut kekaisaran Ghaznavid. Awalnya Seljuk dipukul mundur dan melarikan diri ke wilayah Khwarezm tetapi Togrul dan Cagri kemudian memimpin mereka kembali menyerang dan berhasil menguasai kota Merv dan Nishapur (1028-1029).



Wilayah Kekaisaran Seljuk Raya pada tahun 1092

Kemudian mereka berulang kali menyerbu dan memperdagangkan wilayah dengan penerusnya di Khurasan dan Balkh dan bahkan menjarah kota Ghazni pada 1037. Di tahun 1039 pada Pertempuran Dandanaqan mereka dengan telak berhasil mengalahkan Mas'ud I dari Ghaznavid yang mengakibatkan Ghaznavid harus menyerahkan sebagian besar wilayah baratnya ke Kesultanan Seljuk.

Setelah keberhasilan tersebut, Togrul memproklamasikan berdirinya daulah Seljuk. Pada tahun 1040, daulah ini mendapat pengakuan dari khalifah Abbasiyah di Baghdad. Di saat kepemimpinan Togrul Bey inilah, dinasti Seljuk memasuki kota Banghdad dan menggantikan posisi Bani Buwaih. Sebelumnya, Togrul  berhasil merebut daerah - daerah Marwadan, Naisabur, Balkh, Urjan, Tabaristan, Khawarizm, Rayy, dan Isfahan dari kekuasaan Ghaznavid.

Posisi dan kedudukan Kekhalifahan Abbasiyah lebih baik setelah dinasti Seljuk berkuasa, paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama dirampas orang-orang Syi'ah. Meskipun Baghdad telah dikuasai, namun ia tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan. 

Togrul Bey memilih kota Naisabur dan kemudian kota Rayy sebagai pusat pemerintahannya. Wilayah-wilayah kecil yang sebelumnya memisahkan diri, setelah ditaklukkan daulah Seljuk ini, kembali mengakui kedudukan Baghdad, bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan Abbasiyah untuk membendung paham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut mereka.

Pada dua dasawarsa berikutnya, ketangguhan militer Seljuk mampu memukul mundur Bizantium yang bercokol di Palestina — kota suci ketiga bagi umat Islam dalam peristiwa Manzikert 1071 M.


Pertempuran Manzikert 1071

Tentara Alp Arselan berhasil mengalahkan tentara Romawi yang besar yang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia. Dengan dikuasainya Manzikert tahun 1071 M itu, terbukalah peluang baginya untuk melakukan gerakan turkinisasi di Asia Kecil. Gerakan ini dimulai dengan mengangkat Sulaiman ibn Qutlumish, keponakan Alp Arselan, sebagai gubernur di daerah ini.

Pada tahun 1077, didirikanlah kesultanan Seljuk Rum dengan ibu kotanya Iconium. Sementara itu putera Arselan, Tutush , berhasil mendirikan dinasti Seljuk di Syria pada tahun 1094 M/487 H. 

Pembagian Wilayah

Pada masa Sulthan Maliksyah wilayah kekuasaan Daulah Seljuk ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu dibagi menjadi lima bagian:

1. Seljuk Besar (Persia)
Wilayahnya meliputi Khurasan, Rayy, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syekh yang memerintah seluruhnya delapan orang. Pada masa Maliksyah, wilayah dinasti Seljuk sangat luas, sehingga kemudian wilayahnya tersebut dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya. Ia sendiri tetap menduduki wilayah kekuasaannya di Seljuk Iran yang disebut Seljuk Besar. Seljuk Iran merupakan induk bagi cabang cabang Seljuk lainnya. Sepeninggal Maliksyah, anaknya, Barkiyaruk naik tahta atas dukungan dari kaum Madrasah Nizam Al Mulk.

2. Seljuk Al-Qawurdiyun (Kirman)
Wilayah kekuasaannya berada di bawah keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syekh yang memerintah dua belas orang. Disebut al - Qawurdiyun, nama yang dinisbahkan pada pendirinya, Qawur Qara Arslan Beq, saudara seayah Alp Arslan yang pergi ke Kirman dengan kelompok Guzz dan berhasil mendirikan pemerintahan di daerah Persia itu. Saat Maliksyah berkuasa, Qawurd berusaha menggulingkannya, tetapi ia kemudian dibunuh, lalu Maliksyah memberikan wilayah itu kepada Syah Bin Qawurd yang mewariskan daerah itu untuk keturunannya.

3. Seljuk Al-Iraq (Irak dan Kurdistan)
Pemimpin pertamanya adalah Mughirs al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh sembilan syekh, dimulai dari kekuasaan Sultan Muhammad Bin Maliksyah, setelah ia mendapat bagian utara dari wilayah kekuasaan Seljuk.

4. Seljuk As-Syam (Suriah)
Diperintah oleh keluarga Tutush ibnu Alp Arselan ibnu Daud ibnu Mikail ibnu Seljuk, yang memerintah Suriah atas perintah Sultan Maliksyah. Jumlah syekh yang memerintah lima orang. Namun sepeninggal Tutusy, Seljuk Suriah tidak berumur panjang. Anaknya, Ridwan, yang memeintah Allepo meninggal dunia dan tidak memiliki penerus yang kuat. Syams- al Muluk, anak Tutusy yang memerintah Damaskus juga wafat. Kemudian Seljuk Suriah jatuh ke tangan wali dan penguasa daerah.

5. Seljuk Ar-Rum (Anatolia / Asia Kecil)
Diperintah oleh keluarga Qutlumish ibnu Israil ibnu Seljuk dengan jumlah syeikh yang memerintah seluruhnya 17 orang. Kejayaan kesultanan ini berlangsung pada masa Sulaiman bin Qutulmisy, sepupu Alp Arslan atas perintah Sultan Maliksyah. Ketika sulaiman tewas saat berperang dengan Tutusy, Maliksyah mengangkat anaknya yaitu Killij Arslan I untuk menggantikan ayahnya. Dinasti ini dapat bertahan lama dibanding dinasti lainnya meskipun banyak permasalahan internal.


Pembagian Wilayah Seljuk menjadi 5 bagian

Disamping membagi wilayah menjadi lima bagian, dipimpin oleh gubernur yang bergelar Syeikh atau Malik itu, penguasa Bani Seljuk juga mengembalikan jabatan perdana menteri yang sebelumnya dihapus oleh penguasa Bani Buwaih. Jabatan ini membawahi beberapa departemen.Pada masa Alp Arselan, ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang dan mengalami kemajuan pada zaman Sultan Maliksyah yang dibantu oleh perdana menterinya Nizham al-Mulk.

Perdana menteri ini memprakarsai berdirinya Universitas Nizhamiyah (1065 M) dan MadrasahHanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah. Menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizhamiyah inilah yang menjadi model bagi segala perguruan tinggi di kemudian hari.

Perang Salib Pertama dan kedua

Kesultanan Seljuk kehilangan wilayah Palestina, dan dikuasai oleh Kerajaan Fatimiyah Mesir, sebelum akhirnya diambil alih oleh tentara salib. Hal ini disebabkan negara-negara Seljuk yang terpecah belah, dan secara keseluruhan lebih mementingkan keutuhan wilayah mereka sendiri serta mendapatkan kendali atas tetangga mereka daripada bekerja sama melawan tentara salib. Ketika pasukan Salib Pertama tiba pada tahun 1095 mereka berhasil merebut tanah suci untuk mendirikan Persekutuan Tentara Salib disana.

Pada Perang Salib Kedua, Ahmed Sanjar harus memadamkan pemberontakan Qarakhanid di Transoxiana, Ghorids di Afghanistan dan Qarluks di Kyrghyzstan modern, bahkan suku Kara-Khitais yang nomaden menyerbu wilayah Timur, menghancurkan negara vasal Seljuk di Qarakhanids Timur. Pada Pertempuran Qatwan tahun 1141, Sanjar kehilangan semua provinsi timurnya sampai ke Sungai Syr Darya.

Sebelum dan Pada Perang Salib Kedua Ahmad Sanjar harus  berjuang untuk memadamkan pemberontakan oleh Kara-Khanid di Transoxiana, Ghurid di Afghanistan dan Qarluk di Kyrghyzstan modern, serta invasi suku nomaden Kara-Khitais di timur. Kara-Khitais pertama-tama mengalahkan Kara-Khanid Timur, kemudian melanjutkannya dengan menghancurkan Kara-Khanid Barat, yang merupakan bawahan Seljuk di Khujand.

Kara-Khanid lalu mengirim utusan kepada tuan mereka Seljuq untuk meminta bantuan, yang direspon Sanjar dengan memimpin pasukan secara pribadi melawan Kara-Khitai. Namun, pasukan Sanjar dikalahkan pada Pertempuran Qatwan di tahun 1141. Meskipun Sanjar berhasil menyelamatkan diri, banyak saudara dekatnya termasuk istrinya ditawan setelah pertempuran. Sebagai akibat dari kegagalan Sanjar untuk mengatasi ancaman dari timur, Kekaisaran Seljuq kehilangan semua provinsi timurnya sampai ke sungai Syr Darya, dan pengikut dari Kara-Khanid Barat direbut oleh Kara-Khitai.

Selama masa ini, konflik dengan negara-negara tentara salib terjadi berselang-seling, dan setelah Perang Salib Pertama, atabeg (gubernur) yang semakin independen sering kali bersekutu dengan negara-negara tentara salib melawan atabeg lain karena mereka bersaing satu sama lain untuk memperebutkan wilayah. Di Mosul, Zengi menggantikan Kerbogha sebagai atabeg dan berhasil memulai proses konsolidasi atabeg di Suriah. Pada 1144 Zengi menguasai Edessa, karena Kabupaten Edessa bersekutu dengan Ortoqid untuk melawannya. Peristiwa ini memicu peluncuran perang salib kedua. Nuruddin, salah satu putra Zengi menggantikannya sebagai atabeg dari Aleppo dan menciptakan aliansi di wilayah itu untuk menentang Perang Salib Kedua yang tiba pada tahun 1147.

Masa Kemunduran

Pada tahun 1153, orang-orang Turki Oghuz memberontak dan menangkap Ahmad Sanjar, Sanjar berhasil melarikan diri setelah tiga tahun, namun meninggal setahun setelahnya. Meskipun beberapa usaha untuk menyatukan kembali Seljuk dilakukan oleh para penggantinya, Perang Salib mencegah mereka mendapatkan kembali bekas kerajaan mereka. Atabeg (gubernur) seperti Zengi dan Artuqid hanya secara formal di bawah Sultan Seljuk, pada dasarnya mereka mengendalikan Suriah secara penuh. Kematian Ahmad Sanjar pada tahun 1156 membuat kekaisaran semakin rapuh, membuat para gubernur menjadikan wilayah mereka independen dari kesultanan Seljuk.

adapun wilayah seljuk yang menjadi independen antara lain :

1. Khorasani Seljuk di Khorasan dan Transoxiana. Ibukota: Merv
2. Kermani Seljuqs
3. Kesultanan Rum (atau Seljuk dari Turki). Ibu kota: Iznik( Nicaea ), kemudian Konya ( Iconium )
4. Atabeg dari Salghurids di Iran
5. Atabeg dari Eldiguzid (Atabeg Azerbaijan) di Irak dan Azerbaijan, 
    Ibu Kota: Nakhchivan, Hamadan (1176-1186), Tabriz (1187-1225)
6. Atabeghlik dari Bori di Suriah. Ibukota: Damaskus
7. Atabeghlik dari Zangi di Al Jazira ( Mesopotamia Utara). Ibukota: Mosul
8. Turcoman Beghliks: Danishmendis, Artuqid,  Saltuqid dan Mengujekids di Asia Kecil

Setelah Perang Salib Kedua, jenderal Nuruddin Shirkuh, yang telah memantapkan dirinya di Mesir di wilayah Fatimiyah, digantikan oleh Salahuddin. Salahuddin memberontak terhadap Nuruddin, dan, setelah kematiannya, Salahuddin menikahi jandanya dan menguasai sebagian besar Suriah dan menciptakan dinasti Ayyubiyah

Di sisi lain, Kerajaan Georgia mulai menjadi kekuatan regional dan memperluas perbatasannya dengan menggerogoti Seljuk Besar. Hal yang sama berlaku selama kebangkitan Kerajaan Armenia Kiliki dibawah Leo II dari Armenia di Anatolia. Khalifah Abbasiyah An-Nasir juga mulai menegaskan kembali otoritas khalifah dan bersekutu dengan Khashzmshah Takash.

Untuk waktu yang singkat, Togrul III adalah Sultan dari seluruh Seljuq kecuali untuk Anatolia. Namun, pada 1194, Togrul dikalahkan oleh Takash, Shah dari Kekaisaran Khwarezmid, dan Kekaisaran Seljuq akhirnya runtuh. Dari bekas Kekaisaran Seljuq, hanya Kesultanan Rum di Anatolia yang tersisa.

Ketika dinasti menurun di pertengahan abad ketiga belas, bangsa Mongol datang menginvasi Anatolia pada tahun 1260-an dan membaginya menjadi emirat kecil yang disebut Anatomi Beyliks, yang akhirnya salah satu dari Beyliks ini akan menjadi cikal bakal Kesultanan Utsmaniyyah.

Warisan

Kekaisaran Seljuk juga sangat mendukung dan mendorong perkembangan kebudayaan, salah satunya seni bina bangun atau arsitektur. Tak heran, bila pada era kekuasaan Dinasti Seljuk banyak berdiri karya-karya arsitektur yang mengagumkan. 


Menara Torgul Bey di Iran

Dinasti ini mampu menghidupkan kembali pencapaian Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah dalam bidang bina bangunan. variasi dan kualitas ornamen-ornemen serta bentuk dan teknik arstitektur peninggalan Dinasti Seljuk mampu menjadi inspirasi bagi para arsitek Muslim dan para ahli batu di seluruh dunia. 

Keunggulan dan kehebatan arsitektur warisan Dinasti Seljuk dapat disaksikan dari bangunan-bangunan peninggalan bersejarah di Iran, Anatolia serta wilayah Asia Minor Muslim. Para arsitek dunia mencatat ada dua karya seni arsitektur yang paling unik warisan Dinasti Seljuk, yakni caravanserai (tempat singgah bagi para pendatang) serta madrasah. 


Caravanserai Seljuk

Seljuk juga mendirikan universitas dan juga pelindung seni dan sastra. Pemerintahan mereka ditandai oleh para astronom Persia seperti Omar Khayyam , dan filsuf Persia al-Ghazali. Di bawah Seljuk, Persia Baru menjadi bahasa untuk rekaman sejarah, sedangkan pusat budaya bahasa Arab bergeser dari Baghdad ke Kairo. 

Para Sultan Seljuk

1. Togrul Bey                      (1063)
2. Alp Arselan                     (1063-1072)
3. Maliksyah                       (1072-1092)
4. Mahmud Al-Ghazi            (1092-1094)
5. Barkiyaruq                      (1094-1103)
6. Maliksyah II                    (1103)
7. Abu Syuja' Muhammad      (11 03-1117)
8. Abu Harits Sanjar             (1117-1128)


Referensi :
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Seljuk_Turks
http://ichsanamri.blogspot.com/2017/09/sejarah-kesultanan-seljuk.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Seljuk_Empire
http://www.allempires.com/article/index.php?q=Seljuk_empire


Share This Article :
8718423275451420981