LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Rum

Kesultanan Rum

Kesultanan Rum (1077–1307) pada mulanya merupakan cabang dari Kesultanan Seljuk Raya. Kesultanan Rum menurut sumber barat dikenal juga sebagai Kesultanan Ikonium, atau Negara Seljuk Anatolia. Kerajaan ini menganut Islam Sunni dan didirikan di wilayah-wilayah bekas Kekaisaran Byzantium.


Wilayah Kesultanan Rum

Nama Rum sendiri  berasal dari bahasa Arab yang bemakna “Romawi”, hal ini dapat dimengerti dikarenakan wilayah Kesultanan Rum yaitu Anatolia atau Asia Kecil, dulunya merupakan wilayah kekuasaan Romawi Timur (Kekaisaran Byzantium).

Anatolia atau Asia Kecil menurut sejarah, setidaknya telah dihuni lebih dari 30.000 tahun. Daerah ini merupakan jembatan penghubung Asia – Eropa, dan karena lokasinya yang memiliki banyak sumber daya alam, air, tanah yang subur, dan iklim yang cukup bersahabat, membuatnya selalu menarik bagi pemukim dari banyak peradaban sejak dahulu kala, seperti orang Het, Urartia, Frigia, Yunani, dan orang Turki dari Asia Tengah. 

Pembentukan Kesultanan

Setelah Pertempuran Manzikert pada 1071, Bangsa Turki Seljuk memasuki dan menduduki bagian tengah Anatolia dan sejak saat itulah Islam mulai masuk secara masif ke wilayah ini (Turki Sekarang).

Sebelum Pertempuran Manzikert, serangan Turki Seljuk ke Anatolia hanyalah berupa petualangan, terdiri dari serangkaian serangan-serangan yang bertujuan menjarah barang rampasan. Penyerangan ini menggunakan teknik perang yang belum pernah dilihat sebelumnya, yaitu pemanah berkuda.

Orang-orang Turki merampas ternak untuk mengamankan supply ternak mereka sendiri, dan mengambil tawanan untuk tebusan ataupun dijadikan budak. Mereka sepenuhnya bertindak atas nama pribadi, dan benar-benar independen dari Sultan. Mereka melakukan penyerangan di Anatolia dan kembali ke pangkalan mereka di wilayah iran utara, mereka tidak punya keinginan untuk tetap di wilayah itu setelah melakukan penjarahan karena wilayah itu masih didominasi oleh orang-orang Byzantium.

Namun, setelah Pertempuran Manzikert, situasinya berubah, mereka sekarang dapat menetap di sana dan membangun tanah air mereka sendiri. Komandan Seljuk Suleiman ibn Qutulmish, sepupu jauh Malik-Shah berkuasa di Anatolia barat. 

Pada tahun 1075, ia merebut kota-kota Byzantium di Nicea (İznik) dan Nicomedia (İzmit). Dua tahun kemudian ia mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan Seljuk Rum yang independen dan mendirikan ibukotanya di İznik.

Suleiman berusaha untuk memperluas wilayahnya dengan menyerang Suriah, tapi terbunuh di Antioch pada tahun 1086 oleh Tutush I penguasa Seljuk di Suriah, dan putra Suleiman yaitu Kilij Arslan menjadi sandera Sultan Malik Shah dari Kesultanan Seljuk Raya. Ketika Malik Shah meninggal pada 1092, Kilij Arslan dibebaskan dan segera memantapkan dirinya menjadi penguasa di wilayah Anatolia.

Perang Salib Pertama

Pada 1092 Kilij Arslan muda dibebaskan oleh Malik Shah dan kembali ke Anatolia. Dia mengambil kembali ibukota Iznik, tetapi tidak dapat membuat serangan terhadap Danishmendid, yang terus menjadi saingan  di sisi Seljuk, kecuali ketika keduanya bergabung melawan Tentara Salib.

Pada 1096, Pasukan Salib Pertama tiba di Anatolia barat dalam perjalanan ke Yerusalem. Saat itu Kilij sedang bertempur di provinsi timur Malatya, dan tidak dapat tiba kembali tepat waktu untuk menghalangi perebutan ibukota Iznik oleh Tentara Salib, yang berperang untuk kaisar Bizantium.

Kilij Arslan kemudian membujuk Danishmendid untuk bergabung bersamanya melawan Tentara Salib. Meskipun pasukan gabungan ini solid, beberapa bulan kemudian (Juni, 1097) Seljuk menderita kekalahan besar di Pertempuran Dorylaeum (dekat Eskişehir). Dari arah Iznik, Kilij Arslan mundur ke arah timur dan mendirikan ibu kota baru di Konya.

Sekarang tidak ada yang bisa menghentikan kemajuan Tentara Salib. Mereka merebut Konya pada 1097, kemudian Eregli dan Kayseri, serta semua tanah Aegean. Sepertiga dari Anatolia kembali ke kekuasaan Byzantium. Dengan tujuan utama menguasai Yerusalem, Tentara Salib hanya melewati Anatolia tetapi tidak memiliki keinginan untuk tetap di sana.

Namun, Tentara Salib membunuh dan menjarah, dan mengganggu rencana Seljuk untuk ekspansi, mendorong mereka kembali ke dataran tengah. Tentara Salib juga mempengaruhi hubungan Seljuk dengan saingan mereka, Danishmendid, yang bergabung dengan Seljuk untuk memerangi Tentara Salib, tetapi kembali menjadi musuh ketika Tentara Salib pergi.

Bagaimanapun, sisi positifnya adalah Seljuk kembali bersatu dan berhasil mempertahankan basis mereka di dataran tinggi Anatolia tengah, mereka mengumpulkan pasukan untuk melakukan pertempuran melawan Tentara Salib  di Amasya (1101), di mana cuaca panas di bulan Agustus dan kurangnya air terbukti menjadi bencana bagi Tentara Salib. 

Kesuksesan besar lainnya adalah mereka berhasil merebut kembali Eregli. Kemenangan lain dalam waktu kurang dari satu bulan menempatkan mereka kembali mengendalikan tanah Anatolia. Pada saat yang sama, ancaman dari Danishmend mereda, memberikan Seljuk kesempatan untuk melakukan ekspansi ke timur menuju Malatya (1106) dan kemudian ke kota Seljuk Raya Mosul di Irak (1107).

Namun, upaya ekspansi ini gagal dan meninggalnya Kilij Arslan secara efektif mengakhiri impian Seljuk Rum untuk menaklukkan wilayah tenggara. 

Perang Salib Kedua

Malik Shah (1107-1116), penerus Kilij Arslan, mencoba bertempur melawan Byzantium, namun dikalahkan. Selama masa pemerintahannya ada banyak konflik di Anatolia, hal ini dimanfaatkan oleh Byzantium untuk  merebut kembali tanah di wilayah barat. Selama masa ini juga, Danishmendid menjadi negara Turki terkuat di Anatolia dengan mengambil keuntungan dari  melemahnya Seljuk Anatolia.

Malik Shah digulingkan dari tahta pada tahun 1116 oleh saudaranya sendiri, Mesud yang telah beraliansi dengan Danishmendid dengan menikahi puteri penguasa Danishmendid. Pada saat kematian penguasa Danishmendid pada tahun 1134, Mesud mengambil keuntungan dari situasi tersebut dengan merebut kembali kota-kota dan membangun kembali dominasi Seljuk. 

Ia juga berperang melawan pasukan Perang Salib Kedua di Eskişehir, Denizli, dan Antalya (1147-1148). Perang Salib Kedua merupakan kegagalan bagi orang Eropa karena upaya dan perang yang dilakukan Seljuk. 

Mesud meninggalkan kerajaan yang besar, aman dan makmur, serta menguasai Danishmendid dan sebagian wilayah-wilayah bekas Kekaisaran Seljuk Raya yang hancur.

Perang Salib Ketiga

Setelah kematian Mesud pada 1156, kesultanan menguasai hampir semua Anatolia pusat. Putra Mesud, Kilij Arslan II, yang berkuasa dari Konya, terus berperang melawan Tentara Salib, dan Byzantium yang diperintah oleh Kaisar Manuel I Komnenos, merebut juga menguasai wilayah yang tersisa dari Danishmendid, Sivas dan Malatya.

Pada Pertempuran Myriokephalon pada tahun 1176, Kilij Arslan II mengalahkan pasukan Byzantium yang dipimpin oleh Manuel I Komnenos, hal ini memberikan pukulan besar pada kekuatan Byzantium di wilayah tersebut. 

Meskipun Konya pada tahun 1190 dikuasai oleh pasukan Kekaisaran Romawi Suci pada Perang Salib Ketiga, kesultanan dengan cepat memulihkan dan mengkonsolidasikan kekuatannya. Selama tahun-tahun terakhir pemerintahan Kilij Arslan II, kesultanan mengalami perang saudara antar anak-anak Kilij Arslan II, yaitu Kaykhusraw yang berjuang untuk mempertahankan kekuasaannya, tapi kalah dari saudaranya Suleiman II pada tahun 1196.

Suleiman Shah II mengumpulkan amir bawahannya untuk melawan Georgia, dengan pasukan 150.000-400.000  dan berkemah di lembah Basiani.  Tamar dari Georgia dengan cepat menyusun seluruh pasukan yang dimiliknya dan menempatkannya di bawah komando Pangeran David Soslan.

Pasukan Georgia di bawah pimpinan David Soslan tiba-tiba maju ke Basiani dan menyerang kamp musuh pada 1203 atau 1204.  Dalam pertempuran sengit, pasukan Seljuk berhasil melakukan beberapa serangan balik ke Georgia tetapi akhirnya kewalahan dan dikalahkan.

Jatuhnya bendera Sultan ke tangan orang-orang Georgia mengakibatkan kepanikan dalam barisan Pasukan Seljuk. Suleiman Shah II sendiri terluka dan mundur ke Erzurum. Baik tentara Seljuk maupun pasukan Georgia menderita banyak korban, tetapi serangan yang terkoordinasi dan terkendali memberikan kemenangan untuk orang-orang Georgia.

Suleiman II (1196-1204) dikalahkan oleh Kerajaan Georgia dalam Pertempuran Basian (1203) dan meninggal pada 1204. Ia digantikan oleh putranya Kilij Arslan III, yang pemerintahannya tidak populer.


Peta Wilayah Anatolia tahun 1200

Kaykhusraw merebut Konya pada 1205 dan membangun kembali pemerintahannya.  Di bawah pemerintahannya dan dua penerusnya, Kaykaus dan Kayqubad kekuatan Seljuk di Anatolia mencapai puncaknya. 

Prestasi Kaykhusraw yang paling penting adalah menguasai pelabuhan Attalia (Antalya) di pantai Mediterania pada 1207. Putranya Kaykaus menguasai Sinop dan menjadikan Kerajaan Trebizond sebagai bawahan pada tahun 1214. Ia juga menaklukkan Kilikia Armenia tetapi pada 1218 terpaksa menyerah.

Kayqubad terus memperoleh tanah di sepanjang pantai Mediterania dari tahun 1221 hingga 1225. Pada 1220-an, ia mengirim pasukan ekspedisi melintasi Laut Hitam ke Krimea. Di timur ia mengalahkan Mengujekid dan mulai menekan Artuqid.

Penyerangan Mongol

Kaykhusraw II (1237–1246) memulai pemerintahannya dengan merebut daerah sekitar Diyarbakar, tetapi pada 1239 ia harus menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah populer bernama Baba Ishak.

Setelah tiga tahun, ketika dia akhirnya memadamkan pemberontakan, pijakan Krimea hilang dan negara dan tentara kesultanan melemah. Dalam kondisi seperti inilah dia harus menghadapi ancaman yang jauh lebih berbahaya, yaitu dari orang-orang Mongol.

Pasukan Kekaisaran Mongol merebut Erzurum pada tahun 1242 dan pada tahun 1243, sultan dihancurkan oleh Baiju dalamPertempuran Köse Dağ (gunung antara kota Sivas dan Erzincan), dan orang-orang Seljuq dipaksa bersumpah setia kepada orang-orang Mongol dan menjadi pengikut mereka.


Ekspansi ke timur oleh Kayqubad I

Sultan sendiri telah melarikan diri ke Antalya setelah pertempuran 1243, di mana ia meninggal pada tahun 1246, kematiannya memulai periode tripartit, dan kemudian dua kali lipat, pemerintahan yang berlangsung hingga 1260.

Wilayah Seljuq dibagi di antara tiga putra Kaykhusraw. Yang tertua, Kaykaus II (1246-1260), mengambil alih pemerintahan di wilayah barat sungai Kızılırmak. Adik laki-lakinya, Kilij Arslan IV (1248-1265) dan Kayqubad II (1249-1257), ditetapkan untuk memerintah wilayah timur sungai di bawah pemerintahan Mongol. 

Pada Oktober 1256, Bayju mengalahkan Kaykaus II di dekat Aksaray dan seluruh Anatolia secara resmi tunduk pada Möngke Khan. Pada 1260 Kaykaus II melarikan diri dari Konya ke Krimea di mana ia meninggal disana pada 1279.


Peta Wilayah Anatolia tahun 1300

Kilij Arslan IV dieksekusi pada 1265, dan Kaykhusraw III (1265-1284) menjadi penguasa nominal seluruh Anatolia, dengan dukungan nyata baik oleh bangsa Mongol atau bupati sultan yang berpengaruh.

Terpecah Belah

Negara Seljuq telah mulai terpecah menjadi emirat kecil (beyliks) yang semakin menjauhkan diri dari kontrol Mongol dan Seljuq. 

Menjelang akhir masa pemerintahannya, Kaykhusraw III hanya bisa mengklaim kedaulatan langsung atas tanah di sekitar Konya. Beberapa beyliks (termasuk negara Utsmani awal) dan gubernur Seljuq dari Anatolia terus mengakui kekuasaan Sultan di Konya, meskipun hanya formalitas,


Mata Uang Dirham dari Kaykhusraw II

Ketika Kaykhusraw III dieksekusi pada 1284, dinasti menderita pukulan lain dari pergolakan internal yang berlangsung hingga 1303. Meski demikian, lingkup pengaruh moneter kesultanan bertahan sedikit lebih lam, dimana koin-koin mata uang Seljuk, umumnya masih diakui dan terus digunakan sepanjang abad ke-14, bahkan oleh Kesultanan Ottoman.

Para Sultan Seljuk Rum

1.Qutalmish
1060 -1064
2. Suleiman ibn Qutulmish
1075 -1077 
3. Kilij Arslan I
1092 - 1107
4. Malik Shah
1107- 1116
5. Masud I
1116 -1156
6. 'Izz al-Din Kilij Arslan II
1156 -1192
7. Giyath al-Din Kaykhusraw I
1192 -1196
8. Rukn al-Din Suleiman II
1196 -1204
9. Kilij Arslan III
1204 - 1205
10. Giyath al-Din Kaykhusraw I
1205 -1211
11. 'Izz al-Din Kayka'us I
1211-1220
12. 'Al-al-Din Kayqubad I
1220 -1237
13. Giyath al-Din Kaykhusraw II
1237-1246
14. 'Izz al-Din Kayka'us II
1246 -1260
15. Rukn al-Din Kilij Arslan IV
1248-1265
16. 'Al-al-Din Kayqubad II
1249 -1257
17. Giyath al-Din Kaykhusraw III
1265 -1284
18. Giyath al-Din Masud II
1284 -1296
19. 'Al-al-Din Kayqubad III
1298 -1302
20. Giyath al-Din Masud II
1303 -1308


Referensi :

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Rum
http://www.turkishhan.org/history.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/Timeline_of_the_Seljuk_Sultanate_of_Rum


Share This Article :
8718423275451420981