LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Ghurid

Mungkin banyak dari Sobat S-I (Sejarah Islam) yang belum mengetahui tentang kesultanan Ghurid. Ya, Kesultanan ini memang berumur pendek, sehingga tidak banyak yang bisa dikisahkan. Meski demikian, Kesultanan ini tetap merupakan bagian dari Sejarah Islam yang tidak boleh diabaikan dan akan dibahas pada artikel ini. So, Selamat Membaca…!

Peta Kesultanan Ghurid

Awal
Kesultanan Ghurid (879–1215) adalah sebuah kerajaan yang terletak di wilayah Ghur (Afghanistan) pada pertengahan  abad ke-12 hingga awal abad ke-13. Agama resmi Kerajaan ini adalah Islam Sunni, meskipun awalnya adalah penganut Buddha.

Ghur adalah wilayah pegunungan yang terletak di bagian tenggara wilayah Herat serta barat laut Sungai Helmand. Ghur ditaklukkan oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Ghaznavid pada tahun 1011, dan kemudian membayar upeti kepada Ghaznavids hingga pertengahan abad ke-12. Pada periode ini, penduduknya banyak yang memeluk Islam.

Abu Ali ibn Muhammad (1011-1035), adalah Raja Muslim pertama dari Kesultanan Ghurid dan membangun banyak masjid dan sekolah Islam di Ghur.

Kemerdekaaan dan Perang
Sebelumnya, Kesultanan Ghurid terikat dengan Kesultanan Ghaznavid dengan keharusan membayar upeti setiap tahun. Namun pada saat Pangeran Amir Banji berkuasa, Khalifah Abbasiyah Harun al –Rasyid mengakui kekuasaannya. Sehingga pada pertengahan abad ke-12, Kesultanan Ghurid menyatakan kemerdekaannya dari Ghaznavid. 


Dekorasi Menara Jam di Ghur

Ketika Sayf al-Din Suri naik tahta, terjadi perebutan kekuasaan antar saudaranya. Ia kemudian membagi kerajaan Ghurid bersama dengan saudara-saudaranya:

1. Fakhruddin Mas’ud, mendapat  wilayah di sekitar Sungai Hari.
2. Baha’addin Sam I, mendapat wilayah Ghur.
3. Shihab al-Din Muhammad Kharnak, mendapat wilayah Madin.
4. Shuja al-Din Ali, mendapat wilayah Jarmas.
5. Ala al-Din Husayn mendapat wilayah Wajiristan, dan
6. Qutb al-Din Muhammad mendapat Warshad Warsh.

Namun, Sayf al-Din Suri kemudian bertengkar dengan saudaranya Qutb al-Din Muhammad, yang kemudian pergi mencari perlindungan ke kota Ghazni.

Konflik dengan Kesultanan Ghaznavid bermula pada tahun 1149, ketika Sultan Bahram-Shah, penguasa Ghaznavid membunuh Qutb al-Din Muhammad, yang berlindung di kota Ghazni (Ibukota Ghaznavid) karena berselisih dengan saudaranya Sayf al-Din Suri.

Sayf al-Din Suri kemudian membawa pasukannya ke Ghazni untuk membalas kematian saudaranya, dan berhasil menguasai Kota Ghazni, tapi gagal menangkap Bahram-Shah yang melarikan diri ke Kurram (India).

Satu tahun kemudian, Bahram Shah dan pasukannya kembali dan berhasil mengalahkan Sayf al-Din Suri dan merebut kembali Kota Ghazni. Sayf al-Din Suri  ditangkap lalu dibunuh dan disalibkan di Pul-i Yak Taq. 

Baha al-Din Sam I, saudara laki-laki Sayf al-Din Suri, berangkat bersama pasukannya untuk membalaskan kematian 2 (dua) saudara, tetapi meninggal karena sebab tertentu, sebelum ia sempat mencapai Ghazni. 

Menara jam di Ghur

Ala al-Din Husayn, adik dari Baha al-Din Sam I, diangkat menjadi raja Ghurid, Ia kemudian juga berangkat untuk membalas kematian saudara-suadaranya. Dia berhasil mengalahkan Bahram-Shah, menjarah kota Ghazni dan membakar kota itu selama tujuh hari tujuh malam. 

Ghaznavids merebut kembali kota dengan bantuan Seljuq. Pada tahun 1152, Seljuk kemudian menuntut  upeti kepada Al-Din Husayn, ia menolak untuk membayar upeti bahkan meresponnya dengan membawa pasukan untuk menyerang Seljuk.

Tetapi ia dikalahkan dan ditangkap di Nab oleh Sultan Seljuk Ahmad Sanjar.  Ala al-Din Husayn tetap menjadi tahanan selama dua tahun, sampai ia dibebaskan dengan membayar tebusan besar kepada Seljuq. 

Ala-Din Husayn kembali, dan menstabilkan kekuasaanya. Ia kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk memperluas wilayah kerajaannya. Ia berhasil menaklukkan Garchistan, Tukharistan, dan Bamiyan.

Ala-Din Husayn meninggal pada tahun 1161, dan digantikan oleh putranya Sayfuddin Muhammad, yang kemudian meninggal dalam sebuah pertempuran, dua tahun kemudian.

Masa Ke-Emasan
Sayfuddin Muhammad digantikan oleh sepupunya Ghiyathuddin Muhammad, putra dari Bahauddin Sam I. Ia kemudian membuktikan dirinya sebagai raja yang cakap. Tepat setelah Ghiyathiddin naik tahta, Ia dengan bantuan saudaranya Mu'izz al-Din Muhammad, membunuh seorang pemimpin Ghurid saingan bernama Abu'l Abbas. 


Puing-puing Madrasah

Ghiyathuddin juga kemudian mengalahkan pamannya, Fakhruddin Masud, yang mengklaim takhta Ghurid dengan bersekutu dengan gubernur Seljuk, dari Kota Herat, dan Balkh. Pada tahun 1173, Mu'izz al-Din Muhammad merebut kota Ghazni dan membantu Ghiyathuddin dalam perang melawan Kesultanan Khwarezmid  untuk mengontrol wilayah Khorasan. 

Pada tahun 1175, Mu'izz al-Din Muhammad menguasai kota Multan dan Uch. Ia kemudian menghancurkan Kerajaan Ghaznavid di Lahore pada tahun 1186, untuk membalaskan dendam para pendahulunya.

Setelah kematian saudaranya Ghiyath pada 1202, ia menjadi penerus kerajaannya dan memerintah sampai ia dibunuh pada 1206, di wilayah Jhelum (Pakistan) oleh suku Khokhar.

Akhir
Setelah Mu'izz al-Din Muhammad meninggal, kekacauan terjadi diantara para pemimpin Ghurid yang tersisa. Akhirnya pada tahun 1215, Kesultanan Khwarezm mampu mengambil alih seluruh kerajaan Ghurid, Setelahnya Sultan-Sultan Ghurid berada dibawah otoritas Penguasa Khwarezm.

Meskipun kekaisaran Ghudrid berumur pendek, penaklukan Mu'izz al-Din Muhammad memperkuat pondasi  kekuasaan Muslim di India dengan Kesultanan Delhi dikemudian hari. © Sejarah Islam

REFERENSI
Share This Article :
8718423275451420981