LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Ghaznavid

Jika Sobat S-I (Sejarah Islam) telah membaca artikel-artikel kami sebelumnya, tentu kata “Ghaznavid” bukan hal yang asing lagi bagi sobat. Kata “Ghaznavid”  sendiri berasal dari nama Kota “Ghazni” di Afghanistan sekarang, dan adalah cukup lazim pada zaman dahulu, untuk menyebut ataupun menamai sebuah Kerajaan dengan nama Ibukotanya, seperti Kesultanan Aceh, Kesultanan Malaka, Kesultanan Delhi, dsb. Untuk itu pada artikel kali ini akan kami bahas tentang Kesultanan Ghaznavid. Selamat membaca…!!

Awal
Dinasti Ghaznavid (977–1186) adalah sebuah kerajaan Muslim dari wilayah Khurasan. Pada puncak kejayaan nya, kerajaan ini menguasai sebagian besar Iran, Afghanistan, Transoxiana, dan Pakistan.

Wilayah Ghaznavid pada puncak kejayaannya

Dinasti ini didirikan oleh Sabuktigin yang mewarisi kekuasaan wilayah Ghazni, setelah kematian ayah mertuanya, Alp Tigin. Diketahui bahwa Alp Tigin awalnya merupakan Jenderal dari Kekaisaran Samanid yang kemudian memisahkan diri.

Latar Belakang
Meskipun  Kerajaan ini berasal dari suku Turki di Asia Tengah, Kerajaan ini menggunakan budaya, bahasa, sastra, dan kebiasaan orang-orang Persia. Oleh karena itu beberapa kalangan menganggap nya sebagai Kerajaan Persia.

Putra Sabuktigin, Mahmud dari Ghazni, menyatakan Kemerdekaan dari Kekaisaran Samanid  dan memperluas Kerajaan Ghaznavid hingga ke Amu Darya, Sungai Indus, Samudra Hindia, Rey dan Hamadan.

Pada saat pemerintahan Mas'ud I, Kesultanan Ghaznavid kehilangan kendali atas wilayah baratnya dari Kesultanan Seljuq setelah Pertempuran Dandanaqan, yang mengakibatkan kekuasaan Ghaznavid terbatas hanya di wilayah timur (Afghanistan dan Pakistan sekarang).

Lukisan Perang Sabuktigin

Pada 1151, Sultan Ghaznavid Bahram Shah kehilangan Ibukotanya, yaitu Ghazni ke tangan Ala'uddin Hussain KesultananGhurid. Ibukota kemudian dipindahkan ke Lahore, bertahan hingga akhirnya dihancurkan oleh Kesultanan Ghurid pada tahun 1186.

Selama kurun waktu dua ratus tahun, Kesultanan Ghaznavid telah menjadi kekuatan penting umat Muslim di Asia Tengah dan Asia Selatan sehingga Islam menyebar di antara orang-orang India. Akhirnya, umat Islam menjadi komunitas agama terbesar kedua disana. 

Pakistan dan Bangladesh memiliki asal-usul yang tidak terpisahkan dari Kesultanan Ghaznavid pada masa lampau. Orang-orang yang hidup di bawah pemerintahan Ghaznavid, umumnya hidup stabil dan aman, dan memiliki hubungan kuat dengan Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Kesultanan Ghaznavid juga mendorong rakyatnya untuk patuh pada kehendak Allah swt, hidup sesuai  dengan syariat Islam.

Bangkit menuju kekuasaan
Ada dua keluarga militer utama (turki-mamluk) yang berasal dari Kerajaan Samanid, yaitu Simjurid dan Ghaznavid. Simjurids menguasai tanah di wilayah Kohistan, Khorasan timur. Para jenderal Kerajaan Samanid, Alp Tigin dan Abu al-Hasan Simjuri saling bersaing satu sama lain untuk menjadi gubernur Khorasan dengan harapan dapat mendominasi Kerajaan Samanid setelah kematian Rajanya, Abd al-Malik I pada tahun 961.

Para Pemimpin Militer Kerajaan Samanid berselisih tentang siapa yang akan menggantikan Abd al-Malik. Alp Tigin, pemimpin orang Turki bersama gubernur Khurasan, mendukung putra 'Abd al-Malik, sementara Fa'iq, lebih mendukung Mansur menjadi Raja.  Fa'iq dan mansur akhirnya menang, Alp Tigin kemudian melarikan diri ke Ghazni, memisahkan diri dari Samanid, dan menjadi tempat cikal bakal dinasti Ghaznavid.

Kebangkitan
Sabuktigin, menantu Alp Tigin dan pendiri Kekaisaran Ghaznavid, mulai memperluas wilayahnya  dengan merebut wilayah Samanid, Kabul Shahi, dan sebagian besar wilayah yang sekarang adalah Afghanistan dan Pakistan. 

Sejarawan Persia abad ke-16, Firishta mencatat silsilah Sabuktigin sebagai keturunan Raja Kerajaan Sasanid : "Sabuktigin bin Jukan bin Kuzil-Hukum bin Kuzil-Arslan bin Feruz bin Yezdijird”, Raja Persia. Setelah kematian Sabuktigin, putranya Ismail mengklaim takhta untuk sementara waktu, tetapi ia dikalahkan dan ditangkap oleh Mahmud pada tahun 998 pada Pertempuran Ghazni.

Menara Ghazni

Pada tahun 998, Mahmud mengalahkan saudaranya dan menjadi Penguasa Ghaznavid, setelahnya ia menakhlukkan wilayah Samanid dan Shahi, termasuk Kerajaan Multan Ismaili, Sindh, serta beberapa wilayah Buwayhid. 

Bagaimanapun, pemerintahan Mahmud adalah zaman keemasan dan puncak kejayaan Kekaisaran Ghaznavid. Mahmud melakukan tujuh belas ekspedisi militer melalui India utara untuk memperluas wilayahnya dan membuat banyak negara-negara boneka (vassal). Ekspedisi ini juga sukses mendatangkan banyak harta rampasan perang. 

Kekayaan yang ia peroleh dari ekspedisi India sangat besar, para sejarawan kontemporer (misalnya Al-Baihaqi) memberikan deskripsi tentang kemegahan ibu kota Ghaznavid. Mahmud kemudian meninggal pada 1030.

Kemunduran
Mahmud mewariskan Kerajaan kepada putranya, Mohammad, yang berhati lembut. Mas'ud, saudaranya  meminta tiga wilayah yang pernah ia rebut dalam perang, tetapi Muhammad tidak setuju. Mas'ud kemudian mengumpulkan pasukan melawan saudaranya, ia menang dan menjadi raja, dan memenjarakan Muhamad sebagai hukuman. 

Mas'ud tidak dapat mempertahankan keutuhan Kerajaannya, dimana dia dikalahkan dalam Pertempuran Dandanaqan pada tahun 1040 dan kehilangan semua tanah di Iran dan Asia Tengah. Kekalahan ini mengakibatkan Kerajaan berada dalam masa sulit.

Tindakan terakhirnya adalah mengumpulkan semua hartanya dari kota-kota yang tersisa, dengan harapan dapat mengumpulkan pasukan dan memerintah dari India, tetapi pasukannya membelot dan merampas harta tersebut. Ia kemudian mengumumkan saudaranya yang dipenjara sebagai raja. Kini mereka sekarang bertukar posisi, Mohammad diangkat menjadi raja, sementara Mas'ud dimasukkan ke penjara bawah tanah dan kemudian meninggal disana.

Putra Mas'ud, yaitu Madud, adalah gubernur Balkh, dan pada 1040, setelah mendengar kematian ayahnya, dia datang ke Ghazni untuk mengklaim tahtanya. Dia berperang melawan paman dan sepupunya dan menang. Meskipun ia menang, kerajaan sudah lemah, dan sebagian besar emir (gubernur) tidak tunduk pada Madud. Dalam kurun waktu sembilan tahun, ada 4 (empat) orang lagi yang kemudian mengklaim takhta Ghaznavid.

Ibrahim
Pada tahun 1058 putra Mas'ud, yaitu Ibrahim naik tahta, Ibrahim adalah seorang ahli kaligrafi hebat yang menulis Al-Quran dengan tangannya sendiri. Ibrahim mendirikan kembali Kerajaan yang terpecah belah dan membuat kesepakatan damai dengan Seljuk untuk memulihkan hubungan budaya dan politik. 

Di bawah Ibrahim dan para penerusnya, kekaisaran menikmati periode ketenangan yang berkelanjutan. Meskipun kehilangan wilayah baratnya, negeri masih ditopang dengan harta yang diperoleh dari ekspedisi militer di India Utara, meskipun ia menghadapi perlawanan keras dari para penguasa India seperti Paramara Malwa dan Gahadvala Kannauj. Ia kemudian meninggal pada 1098.

Masud
Masud III menjadi raja selama 16 (enam belas tahun), tanpa ada peristiwa besar dalam hidupnya. Tanda-tanda kelemahan Kerajaan itu menjadi jelas ketika ia meninggal pada tahun 1115, dengan perselisihan internal antara putra-putranya, berakhir dengan naiknya Sultan Bahram Shah sebagai bawahan Kesultanan Seljuk. Bahram shah mengalahkan saudaranya, Arslan dalam perebutan tahta pada Pertempuran Ghazni tahun 1117.

Koin  Mas'ud Kerajaan Ghaznavid

Bahram Shah
Sultan Bahram Shah adalah Raja Ghaznavid terakhir, yang memerintah Ghazni (ibukota Ghaznavida), selama 35 (tiga puluh lima) tahun. Pada 1148 ia dikalahkan di Ghazni oleh Sayfuddin Suri, tetapi ia merebut kembali ibukota pada tahun berikutnya. 

Ala al-Din Husayn, seorang Raja Ghurid, menaklukkan kota itu pada tahun 1151, karena balas dendam atas kematian saudaranya. Ala al-Din Husayn kemudian meratakan kota dan membakarnya selama 7 hari, setelah itu ia dikenal sebagai "Jahānsuz" ( Pembakar Dunia ). 

Kota Ghazni dikuasai kembali oleh Kesultanan Ghaznavi dengan intervensi Seljuk, yang datang untuk membantu Bahram. Pertempuran Ghaznavid dengan Ghurid berlanjut di tahun-tahun berikutnya saat mereka menggerogoti wilayah Ghaznavid. Kekuatan Ghaznavid di India berlanjut hingga penaklukan Ghurid atas Lahore pada tahun 1186.

Militer dan taktik
Pasukan Ghaznavid terutama terdiri dari orang-orang Turki, serta penduduk asli Afghanistan yang dilatih di daerah selatan Hindu Kush. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud, pusat pelatihan militer baru yang lebih besar didirikan di Bost (sekarang Lashkar Gah). 

Daerah ini dikenal sebagai wilayah pandai besi, dimana senjata-senjata perang dibuat.Setelah menaklukkan wilayah Punjab, Kesultanan Ghaznavid mulai mempekerjakan orang-orang Hindu dalam pasukan mereka.

Lukisan pengepungan Kota, oleh Ghaznavid

Seperti dinasti lain yang muncul dari sisa-sisa kekhalifahan Abbasiyah, metode administrasi Ghaznavid dan praktik militer nya berasal dari Abbasiyah. Kuda-kuda Arab, setidaknya dalam kampanye militer awal Kerajaan ini masih digunakan dalam militer Ghaznavid, terutama dalam serangan besar-besaran ke wilayah yang musuh. 

Sebagaimana dibuktikan dengan adanya catatan tentang “6000 kuda Arab” yang dikirim dan digunakan melawan raja Anandapala pada 1008 M dan keberadaan pasukan berkuda Arab ini bertahan hingga 1118 di bawah gubernur Ghaznavid di Lahore. Namun, ada perubahan unik yang diadopsi untuk menyesuaikan keadaan geografis dinasti Ghaznavid. 

Karena akses mereka ke dataran Indus-Gangga, Kesultanan Ghaznavids selama abad ke 11-12, mengembangkan pasukan Muslim yang menggunakan gajah dalam pertempuran. Gajah dilindungi oleh lapisan baju besi di bagian depan mereka. Penggunaan gajah-gajah ini adalah senjata asing di wilayah lain yang diperangi Ghaznavids, terutama di Asia Tengah. 

Budaya dan Sastra
Budaya sastra Persia mengalami kebangkitan di bawah Ghaznavids selama abad ke-11. Pengadilan Ghaznavid sangat terkenal karena dukungannya terhadap sastra Persia sehingga penyair Farrukhi meninggalkan kota asalnya untuk bekerja di Ghaznavid.

Sultan Mahmud menjadikan kota Bukhara sebagai pusat budaya, dan menjadikan Kota Ghazni menjadi pusat ilmu pengetahuan, ia mengundang Ferdowsi dan al-Birun, bahkan berusaha membujuk Ibnu Sina (Avicenna), tetapi ditolak. Mahmud lebih suka ketenaran dan kejayaannya ditampilkan di Persia dan ratusan penyair berkumpul di istananya. Ia juga membawa seluruh perpustakaan dari Rayy dan Isfahan ke Ghazni dan bahkan menuntut agar Khwarezm Shah mengirim orang-orangnya belajar ke Ghazni. 

Ghaznavid terus mengembangkan tulisan sejarah dalam bahasa Persia yang telah diprakarsai oleh pendahulu mereka, Kekaisaran Samanid. Meskipun Ghaznavids berasal dari Turki dan para pemimpin militer mereka pada umumnya adalah orang Turki.

Kincir Angin Temuan Ghaznavid

Sejarawan Bosworth menjelaskan: "Faktanya dengan mengadopsi cara administrasi dan budaya Persia, Ghaznavids melepaskan latar belakang Turki mereka dan mengikuti tradisi Perso-Islam.  Alhasil, Ghazni berkembang menjadi pusat pembelajaran bahasa Arab yang hebat.

Dengan invasi Sultan Mahmud ke India Utara, budaya Persia masuk ke Lahore, yang kemudian menghasilkan penyair terkenal, Masud Sa'd Salman. Kota Lahore di bawah pemerintahan Ghaznavid pada abad ke-11, menarik minat para sarjana Persia dari Khorasan, India, dan Asia Tengah, serta menjadi pusat utama budaya Persia.

Pada masa pemerintahan Mahmud, mata uang Ghaznavid mulai menggunakan dwibahasa yang terdiri dari aksara Arab dan Devanagari. Budaya Persia, yang didirikan oleh Ghaznavid di Ghazni dan Afghanistan, selamat dari invasi Ghurid di abad ke-12 dan bertahan sampai invasi bangsa Mongol.

Warisan
Pada puncaknya kejayaannya, wilayah Kesultanan Ghaznavid mencakup sebagian besar (saat ini) Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Afghanistan, Pakistan dan India barat laut. Penguasa Ghaznavid umumnya dianggap menyebarkan Islam ke anak benua India. Kekayaan terkumpul melalui penakhlukan kota-kota India, dan upeti dari raja-raja India, Ghaznavids juga diuntungkan dari posisi mereka sebagai perantara di sepanjang rute Jalur Sutera . 

Bagaimanapun, pada akhirnya kerajaan Ghaznavid kehilangan wilayah baratnya (Persia dan Asia tengah) oleh Kesultanan Seljuk pada tahun 1040. Dan satu abad kemudian Kesultanan Ghaznavid dihancurkan dan menjadi bagian Kesultanan Ghurid. © Sejarah Islam

REFERENSI
Share This Article :
8718423275451420981