LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Delhi - Part 2

Dinasti Tughlaq
Dinasti Tughlaq berlangsung dari 1320 hingga hampir akhir abad ke-14. Penguasa pertama Dinasti ini adalah Ghazi Malik, ia kemudian mengganti namanya menjadi Ghiyath al-Din Tughlaq dan memiliki julukan lain yaitu Tughlaq Shah. 

Ia berasal dari Turko-India; ayahnya adalah seorang Turki-Mamluk dan ibunya adalah seorang Hindu. Ghiyath al-Din memerintah selama 5 (lima) tahun dan membangun sebuah kota di dekat Delhi yaitu Tughlaqabad, yang bermakna “Kota Tughlaq” . Menurut beberapa sejarawan seperti Vincent Smith, ia dibunuh oleh putranya Juna Khan, yang kemudian mengambil alih kekuasaan pada tahun 1325. Juna Khan mengganti namanya menjadi Muhammad bin Tughlaq dan memerintah selama 26 tahun. Selama masa pemerintahannya, Kesultanan Delhi mencapai puncaknya dalam hal jangkauan geografis, mencakup sebagian besar anak benua India.


Kesultanan Delhi dari 1321-1330 M di bawah dinasti Tughlaq.

Muhammad bin Tughlaq adalah seorang intelektual, dengan pengetahuan luas tentang Quran, Fiqh, puisi dan bidang lainnya. Dia juga sangat curiga terhadap saudara-saudaranya dan wazir (menteri), sangat keras dengan lawan-lawannya, dan mengambil keputusan yang menyebabkan pergolakan ekonomi. Sebagai contoh, ia memerintahkan pencetakan koin dari logam biasa, kemudian menganggapnya setara dengan koin perak.

Koin logam dasar Muhammad bin Tughlaq

Keputusan ini tentu sangat fatal, karena orang-orang bisa mencetak koin palsu dari logam biasa yang mereka miliki di rumah dan menggunakannya untuk membayar pajak dan jizya.

Muhammad bin Tughlaq memindahkan ibukotanya ke dataran Tinggi Deccan, membangun Ibukota baru yang disebut Daulatabad dan memaksa migrasi massal penduduk Delhi. Orang yang menolak pindah akan dibunuh. Tapi pemindahan ibukota gagal karena Daulatabad gersang dan tidak memiliki cukup air untuk mendukung ibukota baru. Ibukota kemudian kembali lagi ke Delhi. 

Muhammad bin Tughlaq memindahkan

Meskipun gagal, perintah Muhammad bin Tughlaq memengaruhi sejarah karena sejumlah besar Muslim Delhi yang datang ke daerah Deccan tidak kembali lagi ke Delhi. Masuknya penduduk Delhi ke wilayah Deccan menyebabkan pertumbuhan populasi Muslim di India tengah dan selatan.

Pemberontakan terhadap Muhammad bin Tughlaq dimulai pada tahun 1327, dan terus berlanjut sehingga membuat wilayah kekuasaan nya menyusut menyusut. Kerajaan Vijayanagara dari India selatan muncul dan melawan serangan Kesultanan Delhi, dan membebaskan India selatan dari pemerintahan Kesultanan Delhi.

Selama masa pemerintahannya, perekonomian negara hancur karena kebijakannya membuat mata uang dari logam biasa (inflasi tinggi). Untuk menutupi pengeluaran negara, ia menaikkan pajak lebih tinggi lagi. Mereka yang gagal membayar pajak diburu dan disiksa. Kelaparan, kemiskinan yang meluas, dan pemberontakan tumbuh di seluruh kerajaan. 

Pada tahun 1339, wilayah timur di bawah gubernur Muslim setempat dan bagian selatan yang dipimpin oleh raja-raja Hindu telah memberontak dan menyatakan kemerdekaan dari Kesultanan Delhi. Muhammad bin Tughlaq tidak memiliki sumber daya atau dukungan untuk menanggapi wilayah yang memberontak.

Sejarawan Walford mencatat Delhi dan sebagian besar India menghadapi kelaparan hebat selama pemerintahan Muhammad bin Tughlaq dan pada tahun 1347, muncul Kesultanan Bahmani, sebuah kerajaan Muslim yang independen di wilayah Deccan Asia Selatan.

Muhammad bin Tughlaq meninggal pada 1351 ketika mencoba mengejar dan menghukum orang-orang di Gujarat yang memberontak terhadap Kesultanan Delhi. Ia digantikan oleh Firuz Shah Tuglaq.

Firuz Shah Tughlaq
Firuz Shah Tughlaq (1351–1388), yang mencoba untuk mendapatkan kembali batas kerajaan lama dengan melancarkan perang dengan Bengal selama 11 bulan pada 1359. Namun, Bengal tidak jatuh. 

Firuz Shah memerintah selama 37 tahun. Pemerintahannya berusaha menstabilkan pasokan makanan dan mengurangi kelaparan dengan menugaskan saluran irigasi dari sungai Yamuna. Sebagai sultan yang berpendidikan, Firuz Shah meninggalkan memoar. Di dalamnya ia menulis bahwa ia melarang praktik penyiksaan, seperti amputasi, mencongkel mata, menggeregaji orang hidup-hidup, menghancurkan tulang, menuangkan timah cair ke tenggorokan, membakar orang, membakar paku ke tangan dan kaki, dan lain –lain.

Ia juga menulis bahwa ia tidak mentolerir berkembangnya Syiah dan sekte Mahdi, dan juga tidak menoleransi umat Hindu yang mencoba membangun kembali kuil-kuil yang telah hancur. Firuz Shah Tughlaq juga mencantumkan prestasinya yaitu mengislamkan orang-orang Hindu dengan mengumumkan pembebasan pajak dan jizya bagi mereka yang telah menadi Muslim, dan juga hadiah. 

Pemerintahan Firuz Shah Tughlaq ditandai dengan berkurangnya bentuk-bentuk penyiksaan yang ekstrem, menghilangkan pengelompokkan masyarakat dalam kasta.

Kematian Firuz Shah Tughlaq menciptakan kekacauan dan perpecahan dalam kerajaan. Dua Penguasa terakhir dinasti ini dan saling bersaing satu sama lain, adalah Nasir ud-Din Mahmud Shah Tughlaq, cucu Firuz Shah Tughlaq yang memerintah dari Delhi, dan Nasir ud-Din Nusrat Shah Tughlaq, kerabat lainnya dari Firuz Shah Tughlaq yang memerintah dari Firozabad.

Pertempuran antara kedua keluarga berlanjut sampai invasi oleh Timur Lenk pada tahun 1398. Timur atau dikenal juga sebagai Timur Lenk , adalah penguasa Turki dari Kekaisaran Timurid. Ia mengetahui kelemahan dan perebutan kekuasaan dalam Kesultanan Delhi, sehingga membuatnya melakukan serangan. Ia menjarah dan membunuh sepanjang jalan.

Perkiraan korban pembantaian oleh Timur di Dehli berkisar antara 100.000 hingga 200.000 orang. Timur tidak berniat tinggal atau memerintah di India. Dia hanya menjarah tanah yang dia lewati, lalu membakar Delhi. Ia kemudian mengumpulkan dan membawa kekayaan, menangkap perempuan dan budak (terutama pengrajin yang terampil), dan kembali ke Samarkand.

Kesultanan Delhi dibiarkan dalam kekacauan dan kehancuran. Nasir ud-Din Mahmud Shah Tughlaq, yang melarikan diri ke Gujarat sewaktu invasi Timur, kembali ke Delhi dan memerintah sebagai penguasa terakhir dinasti Tughlaq.

Dinasti Sayyid
Dinasti Sayyid adalah dinasti Turki yang memerintah Kesultanan Delhi dari tahun 1415 hingga 1451. Invasi dan penjarahan Timurid telah membuat Kesultanan Delhi berantakan, dan hanya sedikit yang diketahui tentang pemerintahan dinasti Sayyid. Annemarie Schimmel mencatat penguasa pertama dinasti itu sebagai Khizr Khan, yang mengambil alih kekuasaan dengan mengklaim sebagai wakil Timur Lenk. Otoritasnya dipertanyakan bahkan oleh orang-orang di dekat Delhi. Penggantinya adalah Mubarak Khan, yang menggelari dirinya sebagai Mubarak Shah dan mencoba untuk mendapatkan kembali wilayah yang hilang di Punjab, tapi tidak berhasil.

Dengan kekuatan dinasti Sayyid yang goyah, sejarah Islam di anak benua India mengalami perubahan besar, menurut Schimmel. Sekte Islam Sunni yang sebelumnya dominan menjadi lemah, sekte-sekte lainnya seperti Syiah bangkit, dan pusat-pusat baru kebudayaan Islam berkembang di luar Delhi. Dinasti Sayyid digantikan oleh dinasti Lodi pada tahun 1451.

Dinasti Lodi
Dinasti Lodi berasal dari suku Pashtun (Afganistan). Bahlul Khan Lodi memulai dinasti Lodi dan merupakan orang Pashtun pertama yang memerintah Kesultanan Delhi. Bahlul Lodi memulai pemerintahannya dengan menyerang Kesultanan Jaunpur Muslim untuk memperluas pengaruh Kesultanan Delhi. Setelah itu daerah Varanasi (wilayah kesultanan Bengal), kembali berada di bawah pengaruh Kesultanan Delhi.

Kesultanan Delhi selama invasi Babur.

Setelah Bahlul Lodi meninggal, putranya Nizam Khan mengambil alih kekuasaan, menggelari dirinya sebagai Sikandar Lodi dan memerintah dari tahun 1489 hingga 1517. Sikandar Lodi mengusir saudaranya Barbak Shah dari Jaunpur, mengangkat putranya Jalal Khan sebagai penguasa, kemudian melanjutkan perjalanan ke timur untuk menguasai Bihar. Gubernur Muslim Bihar setuju untuk membayar upeti dan pajak, tetapi independen dari Kesultanan Delhi (Vassal). 

Sikandar Lodi memindahkan ibukota dan istananya dari Delhi ke Agra. Sikandar kemudian mendirikan bangunan dengan arsitektur Indo-Islam di Agra selama masa pemerintahannya, dan pertumbuhan Agra berlanjut hingga Kekaisaran Mughal, bahkan setelah berakhirnya Kesultanan Delhi.

Sikandar Lodi meninggal secara pada tahun 1517, dan putra keduanya Ibrahim Lodi mengambil alih kekuasaan. Sayangnya Ibrahim tidak mendapatkan dukungan dari bangsawan Afghanistan, Persia, ataupun Gubernur daerah, membuat Ibrahim Lodi tidak dapat mengkonsolidasikan kekuasaannya.

Setelah kematian Jalal Khan, Daulat Khan Lodi sang gubernur Punjab, mengajak Babur untuk menyerang Kesultanan Delhi. Babur mengalahkan dan membunuh Ibrahim Lodi dalam Pertempuran Panipat pada 1526. Kematian Ibrahim Lodi mengakhiri Kesultanan Delhi, dan Kekaisaran Mughal menggantikannya.

Ekonomi
Pada masa Kesultanan Delhi, peradaban Islam adalah peradaban yang paling maju di Abad Pertengahan. Peradaban Islam memiliki masyarakat multikultural, pluralistik, dan jaringan internasional yang luas, termasuk jaringan sosial dan ekonomi, yang mencakup sebagian besar Afro-Eurasia. Hal ini mengarah pada peningkatan sirkulasi barang, orang, teknologi dan ide. 

Kesultanan Delhi berperan untuk mengintegrasikan anak benua India ke dalam sistem peradaban Islam yang berkembang, membawa India ke dalam jaringan internasional yang lebih luas, yang mengarah pada peningkatan ekonomi, social, dan budaya di anak benua India.

Budaya
Penaklukan Muslim atas India dibarengi dengan keberhasilan mereka mempertahankan identitas Islam dan menciptakan sistem hukum dan administrasi baru yang sangat berbeda dengan sistem yang berlaku sebelumnya. Mereka juga memperkenalkan budaya baru yang sangat berbeda dari budaya yang ada. 

Hal ini menyebabkan munculnya budaya India baru yang berbeda dari budaya India kuno. Mayoritas besar Muslim di India adalah penduduk asli India yang masuk Islam. Faktor ini juga memainkan peran penting dalam budaya.

Militer
Sebagian besar pasukan Kesultanan Delhi terdiri dari budak militer Mamluk-Turki nomaden, yang terampil dalam perang menggunakan kuda. Kontribusi militer utama Kesultanan Delhi adalah keberhasilan mereka memukul mundur invasi Kekaisaran Mongol ke India, yang tentu dapat menghancurkan bagi India, sebagaimana invasi Mongol ke Cina, Persia dan Eropa. 

Tentara Mamluk Kesultanan Delhi terampil dalam menggunakan kuda dan memiliki gaya perang yang sama dengan pasukan berkuda bangsa Mongol, membuat mereka berhasil memukul mundur invasi Mongol, seperti halnya dengan Kesultanan Mamluk di Mesir. Kalau bukan karena Kesultanan Delhi, ada kemungkinan Kekaisaran Mongol akan berhasil menguasai India. 

Penguasa Kesultanan Delhi
Sultan (Raja / Penguasa)
Berkuasa
Wafat
Catatan
1
Qutb-ud-din Aibak
1206
1210
Sultan pertama
2
Aram Shah
1210
1211
3
Iltutmish
1211
1236
4
Rukn-ud-din Firuz
1236
1236
5
Sultana Raziya
1236
1240
Penguasa wanita
6
Muiz ud din Bahram
1240
1243
7
Ala ud din Masud
1243
1249
8
Nasir dan din Mahmud
1249
1266
9
Ghiyas ud din Balban
1266
1287
10
Muiz ud din Qaiqabad
1287
1290
11
Jalaluddin Khalji
1290
1296
12
Alauddin Khalji
1296
1316
13
Shihabuddin Omar
1316
1316
14
Qutb-ud-din Mubarak
1316
1320
15
Khusrau Khan
1320
1321
Sejarah Kesultanan Delhi Selesai. ©Sejarah Islam

REFERENSI
Share This Article :
8718423275451420981