LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kesultanan Delhi – Part 1


Sobat S-I (Sejarah Islam) tentu tahu kan, Kota New Delhi itu ada dimana? Yup...! New Delhi adalah Ibu kota India sekarang. Negara yang terkenal dengan film-film Bollywood nya dan Negara yang mayoritas Hindu tersebut, ternyata menyimpan sejarah kejayaan Islam pada masa lalu. Salah satunya adalah Kesultanan Delhi, yang juga akan menjadi pembahasan kita pada artikel kali ini. So, Selamat membaca..!

Kesultanan Delhi adalah kesultanan yang berbasis di Delhi, wilayahnya membentang di sebagian besar anak benua India selama 320 tahun (1206-1526). Ada 5 (lima) dinasti yang memerintah atas Kesultanan Delhi secara berturut – turut, yaitu : Dinasti Mamluk (1206-1290), Dinasti Khalji (1290–1320), Dinasti Tughlaq (1320–1414), Dinasti Sayyid (1414) –1451), dan Dinasti Lodi (1451–1526). 


Kesultanan Delhi pada puncak kejayaannya

Kesultanan ini tercatat sebagai salah satu dari sedikit negara yang berhasil menahan serangan oleh bangsa Mongol, dan menobatkan salah satu dari beberapa penguasa wanita dalam sejarah Islam, yaitu Razia Sultana yang memerintah dari tahun 1236 hingga 1240.

Qutb al-Din Aibak, mantan budak (Turki-Mamluk) Muhammad Ghori, adalah Sultan pertama di Delhi, dan dinastinya menaklukkan banyak wilayah di India utara. Setelah itu, dinasti Khalji juga berhasil menaklukkan sebagian besar India tengah, tetapi gagal menaklukkan seluruh anak benua India. Kesultanan Delhi mencapai puncak jangkauan geografisnya selama dinasti Tughlaq dengan menguasai sebagian besar anak benua India.

Pada masa Kesultanan Delhi terjadi perpaduan antara budaya Islam dan budaya India, yang akhirnya membentuk arsitektur Indo-Islam, meningkatkan jumlah pertumbuhan penduduk, meningkatkan ekonomi India, serta awal munculnya bahasa Hindi-Urdu. Kesultanan Delhi juga berperan penting memukul mundur invasi bangsa Mongol yang hendak memasuki India pada abad ke 13 dan 14.

Latar Belakang

Kebangkitan Kesultanan Delhi di India tidak terlepas dari pekembangan kerajaan-kerajaan Islam di benua Asia, khususnya Timur Tengah dan Asia tengah, yaitu dengan masuknya orang-orang Turki nomaden ke Asia selatan. Ini dapat ditelusuri kembali ke abad ke-9, ketika kekhalifahan Islam mulai terpecah-pecah di Timur Tengah, di mana penguasa Muslim di negara-negara tersebut mulai memperbudak orang-orang Turki nomaden (non-Muslim) dari daratan Asia Tengah, dan mengangkat mereka menjadi budak militer yang setia yang disebut Mamluk. 

Setelahnya, orang-orang Turki bermigrasi ke tanah-tanah Muslim dan masuk Islam. Banyak budak Mamluk Turki akhirnya bangkit menjadi penguasa, dan menaklukkan sebagian besar dunia Muslim, mendirikan Kesultanan Mamluk di Mesir, Irak,  Afghanistan, hingga akhirnya ke anak benua India.

Pada tahun 962 M, kerajaan-kerajaan Hindu - Buddha di Asia Selatan berada di bawah penakhlukan pasukan Muslim dari Asia Tengah.  Di antaranya adalah Sultan Mahmud Kerajaan Ghaznavid, putra seorang Mamluk-Turki, yang melakukan ekspedisi militer di India utara dari timur sungai Indus ke barat sungai Yamuna sebanyak 17 (tujuh belas) kali antara tahnu 997 hingga 1030. Ekspedisi  di India utara dan India barat oleh panglima perang Muslim berlanjut setelah kematian Sultan Mahmud.

Sultan Ghurid, Mu'izz ad-Din Muhammad Ghori, umumnya dikenal sebagai Muhammad Ghor, memulai ekspedisi ke India utara pada tahun 1173. Ia berusaha membuat sebuah kerajaan sendiri dan memperluas dunia Islam. Muhammad Ghor akhirnya mendirikan kerajaan Islam Sunni yang membentang di sebelah timur sungai Indus, dan dengan demikian ia meletakkan fondasi bagi kerajaan Muslim selanjutnya yang disebut Kesultanan Delhi. 

Muhammad Ghori dibunuh pada 1206, oleh Isma’ili seorang Shiah, atau menurut riwayat lain, ia  dibunuh oleh Khokhars seorang Hindu. Setelah pembunuhan itu, salah satu budak (Mamluk-Turki) Ghori yang bernama Qutb al-Din Aibak, mengambil alih kekuasaan dan menjadi Sultan Delhi pertama. 

Dinasti Mamluk

Qutb al-Din Aibak, mantan budak Mu'izz ad-Din Muhammad Ghori (lebih dikenal sebagai Muhammad dari Ghor), adalah penguasa pertama Kesultanan Delhi. Aibak berasal dari Cuman- Kipchak( Turki ), dan karena garis keturunannya, dinastinya dikenal sebagai dinasti Mamluk (Budak). Aibak memerintah sebagai Sultan Delhi selama empat tahun, dari 1206 hingga 1210.

Kesultanan Delhi dari 1206-1290 M di bawah dinasti Mamluk.

Setelah Aibak meninggal, Aram Shah  mengambil alih kekuasaan pada 1210, tetapi ia dibunuh pada 1211 oleh Shams ud-Din Iltutmish. Kekuasaan Iltutmish mengalami pergolakan, dikarenakan sejumlah amir Muslim (bangsawan/gubernur) menantang otoritasnya karena mereka adalah pendukung Qutb al-Din Aibak. Setelah serangkaian peperangan, Iltutmish berhasil mengokohkan kekuasaannya. 

pada masa Pemerintahannya, terjadi beberapa kali pemberontakan, seperti oleh Qubacha, dan ini menyebabkan serangkaian perang. Sukses mengalahkan pemberontak, Iltumish lalu menaklukkan wilayah Multan dan Benggala dari penguasa Muslim, serta Ranthambore dan Siwalik dari penguasa Hindu. Dia juga menyerang, mengalahkan, dan mengeksekusi Taj al-Din Yildiz, yang mengklaim sebagai pewaris Mu'izz ad-Din Muhammad Ghori. Kekuasaan Iltutmish berlangsung hingga tahun 1236.

Setelah kematiannya, Kesultanan Delhi dipimpin oleh para penguasa yang lemah, sehingga terjadi perebutan kekuasaan, pembunuhan, dan ketidakstabilan politik. Kekuasaan berpindah dari Rukn ud-Din Firuz ke Razia Sultana dan berpindah lagi, sampai Ghiyas ud-Din Balban berkuasa dan memerintah dari 1266 ke 1287. 

Ia digantikan oleh Muiz ud-Din Qaiqabad yang berusia 17 tahun, Qaiqabad lalu menunjuk Jalal ud-Din Firuz Khalji sebagai komandan pasukan. Khalji berkhianat dan membunuh Qaiqabad dan mengambil alih kekuasaan, sehingga mengakhiri dinasti Mamluk dan memulai dinasti Khalji.

Reruntuhan Masjid Quwwatul Islam

Qutb al-Din Aibak memprakarsai pembangunan Masjid Qutub dan Masjid Quwwat-ul-Islam (Might of Islam), yang sekarang menjadi situs warisan dunia UNESCO. Kompleks Qutub Minar atau Kompleks Qutb diperluas pada masa Iltutmish, dan kemudian oleh Ala ud-Din Khalji (penguasa kedua dinasti Khalji) pada awal abad ke-14.

Selama dinasti Mamluk, banyak bangsawan dari Afghanistan dan Persia bermigrasi dan menetap di India, ketika wilayah Asia Barat diserang oleh bangsa Mongol.

Dinasti Khalji

Dinasti Khalji berasal dari bangsa Turko-Afghanistan. Mereka aslinya berasal dari Turki. Tapi mereka telah lama menetap di Afghanistan sebelum akhirya melanjutkan ke Delhi di India. 

Gerbang Alai dan Qutub Minar dibangun pada masa Dinasti Khalji di Kesultanan Delhi.

Nama "Khalji" mengacu pada wilayah atau kota Afghanistan yang dikenal sebagai Qalat-e Khalji (Benteng Ghilji). Kadang-kadang mereka dianggap sebagai etnis Afghanistan karena perkawinan mereka dengan orang-orang Afghanistan setempat, serta adopsi adat dan istiadat Afghanistan, mengakibatkan dinasti ini kadang-kadang disebut sebagai Turko-Afghanistan.  

Penguasa pertama dinasti Khalji adalah Jalal ud-Din Firuz Khalji. Firuz Khalji telah mengumpulkan cukup banyak dukungan dari rakyat Afghanistan untuk mengambil alih kerajaan. Ia berkuasa pada 1290 setelah membunuh penguasa terakhir dinasti Mamluk, Muiz ud-Din Qaiqabad, dengan dukungan para bangsawan Afghanistan dan Turki. Dia berusia sekitar 70 tahun pada saat naik tahta, dan dikenal sebagai raja yang santun, rendah hati dan baik kepada masyarakat umum. 

Jalal ud-Din Firuz berasal dari Turko Afghanistan, dan memerintah selama 6 tahun sebelum ia dibunuh pada 1296 oleh keponakan dan menantu lelakinya Juna Muhammad Khalji, yang kemudian dikenal sebagai Ala ud-Din Khalji.

Ala ud-Din memulai karir militernya sebagai gubernur provinsi Kara, dimana ia memimpin dua kampanye militer di Malwa (1292) dan Devagiri (1294). Selain itu ia juga menaklukkan Gujarat, Ranthambore, dan Chittor. Namun, kampanye militernya terhadang oleh serangan Mongol dari barat laut. Bangsa Mongol kemudian pergi setelah menjarah dan berhenti menyerbu bagian barat laut Kesultanan Delhi.

Lukisan tentang Alauddin dan pasukannya

Setelah Mongol mundur, Ala ud-Din Khalji terus memperluas Kesultanan Delhi ke India selatan dengan bantuan para jenderal seperti Malik Kafur dan Khusro Khan. Mereka mengumpulkan banyak barang rampasan perang dari orang-orang yang mereka kalahkan. Komandannya mengumpulkan rampasan perang dan jizya (pajak) yang membantu memperkuat kekuasaan Khalji. Di antara rampasan perangnya ialah berlian Koh-i-noor yang terkenal.

Ala ud-Din Khalji mengubah kebijakan pajak, menaikkan pajak pertanian dari 20% menjadi 50% (dibayarkan dalam bentuk biji-bijian dan hasil pertanian), menghilangkan pembayaran dan komisi atas pajak yang dikumpulkan oleh kepala daerah, melarang sosialisasi di antara para pejabatnya, melarang pernikahan antara keluarga bangsawan untuk membantu mencegah terbentuknya oposisi terhadapnya, dan memotong gaji para pejabat, penyair, dan cendekiawan.

Kebijakan pajak dan kontrol pengeluaran ini memperkuat perbendaharaannya untuk membayar pasukannya yang terus bertambah; dia juga memperkenalkan kontrol harga pada semua hasil pertanian dan barang-barang di kerajaan. Pedagang Muslim diberikan izin eksklusif monopoli perdagangan dan tidak ada orang lain selain pedagang ini yang boleh membeli dari petani atau menjual di kota. Mereka yang ditemukan melanggar aturan ini dihukum berat, seringkali dengan cara dimutilasi. 

Pajak yang dikumpulkan dalam bentuk biji-bijian disimpan di gudang kerajaan. Ketika terjadi kelaparan, gudang-gudang ini memastikan makanan yang cukup untuk tentara. Sejarawan mencatat Ala ud-Din Khalji sebagai peguasa tiran. Siapapun yang dicurigai dan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaannya, akan dibunuh beserta keluarganya (termasuk wanita dan anak-anak). Pada 1298, antara 15.000 dan 30.000 orang di wilayah Delhi, yang baru saja masuk Islam, dibantai dalam satu hari, karena kekhawatiran akan adanya pemberontakan. Ia juga dikenal karena kekejamannya terhadap kerajaan musuh yang ia kalahkan dalam pertempuran.

Setelah kematian Ala ud-Din pada tahun 1316, jenderal kasimnya Malik Kafur, yang lahir dalam keluarga Hindu dan telah masuk Islam, mencoba untuk mengambil alih kekuasaan. Tapi dia tidak memiliki dukungan dari bangsawan Persia dan Turki dan kemudian dibunuh.

Penguasa Khalji terakhir adalah putra Ala ud-Din Khalji yang berusia 18 tahun, yaitu Qutb ud-Din Mubarak Shah Khalji, yang memerintah selama 4 (empat) tahun sebelum dia dibunuh oleh Khusro Khan, salah satu jendral Ala ud-Din. Pemerintahan Khusro Khan hanya berlangsung beberapa bulan, ketika Ghazi Malik, yang kemudian disebut Ghiyath al-Din Tughlaq, membunuhnya dan mengambil alih kekuasaan pada tahun 1320, dengan demikian berakhirlah dinasti Khalji dan dimulailah dinasti Tughlaq yang baru. © Sejarah Islam


Share This Article :
8718423275451420981