LWxcLWJbNaR6MGJ8NGJbNWp5NCMkyCYhADAsx6J=
×
iklan banner
MASIGNCLEANSIMPLE101

Invasi Mongol ke Khwarezm – Part 2

Pada artikel sebelumnya, InvasiMongol ke Khwarezm – Part 1 telah dibahas secara ringkas penyebab terjadinya invasi Mongol atas Kekaisaran Khwarezm. Pada artikel ini akan kami bahas lebih lanjut dan lebih mendalam hingga tuntas, selamat membaca…!

Invasi Awal

Meskipun secara teknis berbatasan, pusat Kerajaan Mongol dan Khwarezm pada dasarnya sangat berjauhan satu sama lain.  Ada beberapa rangkaian pegunungan berbahaya yang harus diseberangi sebelum mencapai perbatasan masing-masing kerajaan. 

Shah Khwarezm dan penasihatnya berasumsi bahwa bangsa Mongol akan menyerbu melalui celah Dzungarian, sehingga satu-satu pilihan bagi Khwarezm adalah memblokir celah Dzungarian dengan sebanyak mungkin pasukan, tentu saja Jenghis khan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan pasukannya dari Mongolia menuju celah tersebut dan baru akan menyerang setelah musim dingin berlalu. Para pembuat keputusan di Kerajaan Khwarezm percaya bahwa mereka memiliki waktu lebih untuk memperbaiki strategi mereka.

Kenyataannya, segera setalah perang diumumkan, Jenghis Khan langsung mengirim perintah kepada pasukan yang ada di barat untuk segera melintasi pegunungan Tien Shan menuju selatan dan menghancurkan Lembah Ferghana yang subur di bagian timur Kekaisaran Khwarezm. 

Jenghis Khan

Pasukan penyerang ini terdiri dari 20.000-30.000 orang, dipimpin langsung oleh putra Jenghis Khan, yaitu Jochi beserta jendral elitnya, Jebe. Melintasi gunung Tien Shan jauh lebih berbahaya daripada celah Dzungarian itu sendiri, karena mereka mencoba menyeberanginya di tengah musim dingin dengan salju setinggi lebih dari 5 kaki. 

Meskipun bangsa Mongol menderita kerugian dan kelelahan pasukan, keberadaan mereka di Lembah Ferghana mengejutkan para pemimpin Khwarezm.

Shah beranganggapan bahwa pasukan Mongol yang berasa di lembah tersebut adalah pasukan utama, sehingga ia harus memusatkan kekuatannya dan mengirim pasukan utama Khwarezm di wilayah tersebut. Selain itu, Shah juga mengirim pasukan elitnya sebagai cadangan ke wilayah tersebut.

Jebe dan Jochi mengatur pasukan mereka dengan baik, menjarah lembah ferghana, dan menghindari konfrotasi langsung dengan pasukan utama Khwarezm. Bangsa Mongol kemudian membagi pasukannya dan bermanuver di atas pegunungan, Jebe dan pasukannya bergerak ke selatan, masuk lebih dalam ke wilayah Khwarezm, sementara Jochi yang mengambil sebagian besar pasukan, bergerak ke arah barat laut dan menyerang kota-kota di sekitar sungai Syr Darya.

Kota Otrar

Pasukan Mongol lainnya, yang pimpin Chagatai dan Ogedei menuruni Pegunungan Altai ke arah utara dan mulai mengepung kota Otrar. Rashid Al-Din menyatakan bahwa Otrar memiliki 20.000 Pasukan yang menjaga benteng kota.

Jenghis Khan dan pasukannya, telah melewati pegunungan Altai, namun menyembunyikan pasukannya dibelakang pegunungan untuk menjebak pasukan Shah yang datang ke Otrar. Shah kemudian menggiring pasukannya dari Samarkand untuk membantu Otrar, Jenghis kemudian berusaha mengepung pasukan Shah dari belakang. Namun Shah berhasil menghindari jebakan, dan Jenghis harus mengubah rencana.

Otrar tidak mudah di takhlukkan seperti kota-kota khwarezm lainnya. Gubernur Otrar memerintahkan  pasukan untuk tetap di benteng, memberikan perlawanan yang sengit, dan bertahan melawan banyak serangan. 
Pengepungan berlangsung selama 5 (lima) bulan tanpa hasil, sampai seorang pengkhianat membukakan pintu gerbang dari dalam untuk orang-orang Mongol. Pasukan mongol akhirnya masuk dan membantai pasukan penjaga benteng.  

Benteng tersebut yang menampung 10% pasukan bertahan selama satu bulan lagi, dan berhasil direbut setelah banyak korban dipihak Mongol. Gubernur Otrar, Inalchuq bertahan hingga akhir, bahkan mendaki ke puncak benteng di saat-saat terakhir pengepungan dan melempar ubin ke arah pasukan Mongol yang mendekat dan membunuh mereka dalam pertempuran jarak dekat. Jenghis Khan kemudian membunuh banyak penduduk, memperbudak sisanya, dan membunuh Inalchuq dengan memasukkan cairan perak panas ke mata dan telinganya.

Reruntuhan Benteng Kota Otrar

Jatuhnya Otrar membuat Shah Muhammad II mempersiapkan pertahanan yang kuat di sekitar ibukotanya, Samarkand, tetapi Jenghis menipunya dengan melintasi  Gurun Kyzylkum sejauh 300 mil yang dianggap mustahil oleh Shah. Bangsa Mongol kemudian sampai di gerbang kota Bukhara.

Kota Bukhara

Kota Bukhara tidak terlalu dibentengi dengan baik dan bertahan selama 3 hari pengepungan. Pada hari ke 3 pasukan kota dimusnahkan dalam pertempuran terbuka, meskipun ada beberapa unit pasukan yang berhasil mempertahankan benteng kota selama dua belas hari. 

Ketika kota dikuasai, hampir semua orang dieksekusi kecuali para tukang, yang mana mereka dikirim ke Mongolia. Para anak pemuda yang tidak bertempur direkrut menjadi tentara Mongolia dan sisanya dijadikan budak.

Ibukota Samarkand

Setelah kejatuhan Bukhara, Jenghis menuju ke ibukota Khwarezmian di Samarkand dan tiba pada bulan Maret tahun 1220. Selama periode ini, bangsa Mongol juga melakukan perang psikologis yang efektif dan menyebabkan perpecahan di dalam musuh mereka. 

Samarkand memiliki benteng yang secara lebih baik dan pasukan penjaga yang lebih besar dibandingkan dengan Bukhara. Ketika Jenghis memulai pengepungannya, putra-putranya Chaghatai dan Ögedei bergabung dengannya setelah menyelesaikan pengurangan Otrar, dan pasukan gabungan Mongol melancarkan serangan ke kota. Bangsa Mongol menyerang dengan menggunakan tawanan sebagai tameng.

Pada hari ketiga, pasukan Shah melancarkan serangan balik. Jenghis kemudian pura-pura mundur, dan memancing setengah dari pasukan Shah keluar mengejarnya, jenghis kemudian menyergap dan membantai mereka dalam pertempuran terbuka. 

Pada hari kelima, hampir semua prajurit menyerah. Para prajurit pendukung setia Shah, bertahan di benteng. Setelah benteng itu jatuh, Jenghis mengingkari syarat-syarat penyerahannya dan menghukum mati setiap prajurit. Orang-orang Samarkand diperintahkan berkumpul di sebuah dataran di luar kota, dan dieksekusi di sana.

Tapi Shah berhasil selamat, dan Jenghis Khan menuntut Subutai dan Jebe, dua jenderal utama Khan, untuk membunuh Shah. Shah melarikan diri ke barat  bersama prajuritnya setianya dan putranya, Jalal al-Din, ke sebuah pulau kecil di Laut Kaspia. Di sanalah, pada bulan Desember 1220, Shah meninggal. 

Kota Urgench

Sementara Urgench, kota perdagangan yang kaya masih di tangan pasukan Khwarezmian. Sebelumnya, ibu Shah adalah penguasa Urgench, tetapi dia melarikan diri ketika mendengar putranya melarikan diri ke Laut Kaspia. Tapi dia ditangkap dan dikirim ke Mongolia. 

Khumar Tegin, salah satu jenderal Shah, menyatakan dirinya sebagai Sultan Urgench. Jochi, yang sejak awal invasi berada disekitar Urgench, mendekati kota dari arah utara, sementara Jenghis, Ögedei, dan Chaghatai menyerang dari selatan.

Serangan di Urgench terbukti menjadi pertempuran paling sulit dari invasi Mongol. Kota ini dibangun di sepanjang sungai Amu Darya di daerah berawa. Tanah lunak tidak cocok untuk pengepungan, dan kurangnya batu besar untuk ketapel.

Reruntuhan Istana di Urgench

Orang-orang Mongol menyerang dengan berbagai cara, dan kota itu jatuh setelah para pasukan Urgench melakukan perlawanan sengit sampai titik darah penghabisan. Korban Mongolia lebih tinggi dari biasanya, karena kesulitan beradaptasi di daerah rawa.

Penguasaan atas Urgench semakin rumit dengan berlanjutnya ketegangan antara Jenghis Khan dan putra sulungnya, Jochi, yang telah dijanjikan kota sebagai hadiahnya. Ketegangan bermula ketika Jochi melakukan negosiasi dengan para pasukan Kota, Jochi berusaha membuat mereka menyerah sehingga dapat mencegah kerusakan lebih besar pada kota.

Permaisuri Kekaisaran Khwarazmian ditawan oleh tentara Mongol.

Hal ini membuat Chaghatai marah, dan Jenghis mencegah perkelahian antar anak-anak nya dengan mengangkat Ögedei sebagai komandan pasukan. Tetapi pemecatan Jochi dari komando, dan penjarahan  kota yang harusnya menjadi miliknya, membuatnya marah danmenjauhkan diri dari ayah dan saudara-saudaranya

Seperti biasa, para tukang dikirim ke Mongolia, wanita muda dan anak-anak diberikan kepada tentara Mongol sebagai budak, dan penduduk lainnya dibantai. Sarjana Persia Juvayni menyatakan bahwa tiap-tiap pasukan mongol yang terdiri dari 50.000 orang, diberi tugas untuk mengeksekusi 24 (dua puluh empat warga) Urgench, yang berarti ada 1,2 juta orang tewas. 

Meskipun perkiraan ini berlebihan, peristiwa ini dianggap sebagai salah satu pembantaian paling berdarah dalam sejarah manusia.

Kota Balkh

Pasukan Tolui terdiri dari sekitar 50.000 orang, yang terdiri dari pasukan Mongol, ditambah dengan sejumlah pasukan asing, seperti Turki dan orang-orang Cina. Termasuk juga 3.000 mesin pemanah, 300 ketapel, 700 mangonel , 4.000 tangga, dan 2.500 karung pasir untuk menutupi parit. Di antara kota-kota yang pertama jatuh adalah kota Termez dan Kota Balkh.

Kota Merv

Kota utama yang jatuh ke pasukan Tolui adalah kota Merv. Pasukan penjaga kota di Merv hanya sekitar 12.000 orang, dan kota itu dibanjiri oleh para pengungsi dari timur Khwarezm. Selama enam hari, Tolui mengepung kota itu, dan pada hari ketujuh, ia menyerang kota itu. Namun, pasukan Merv memukul mundur serangan itu dan melancarkan serangan balik terhadap bangsa Mongol, tapi pasukan Merv juga dipukul mundur kembali ke kota. 

Keesokan harinya, gubernur kota Merv membuat perjanjian dengan Tolui. Ia akan menyerahkan kota dengan syarat nyawa penduduk akan selamat. Tolui menyetujui, namun begitu kota itu diserahkan, Tolui mengingkari janjinya dan membantai hampir setiap orang.

Kota Nishapur

Setelah menghancurkan Merv, Tolui menuju ke barat, menyerang kota Nishapur dan kota Herat. Nishapur jatuh hanya dalam tiga hari. Di kota ini, Tokuchar yang merupakan ipar Tolui, terbunuh dalam pertempuran. Tolui sangat marah dan membantai semua makhluk hidup yang ada di kota, termasuk kucing dan anjing. Setelah kejatuhan Nishapur, kota Herat menyerah tanpa perlawanan dan selamat.

Pada musim semi tahun 1221, seluruh wilayah Khurasan berada di bawah pemerintahan Mongol. Tolui meninggalkan sebagian besar pasukannya dan kembali ke timur untuk bergabung kembali dengan ayahnya. 

Hancurnya Khwarezm

Setelah kemenagan Mongol di Khorasan, pasukan Shah hancur. Jalal al-Din mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya, mulai mengumpulkan sisa-sisa pasukan Khwarezm selatan Afghanistan. 

Jenghis telah mengirim pasukan untuk memburu Jalal al-Din, dan kedua pasukan bertemu pada musim semi tahun 1221 dan bertempur di kota Parwan. Pertempuran dimenangkan oleh Jala ad-Din, dan itu merupakan kekalahan memalukan bagi pasukan Mongol. 

Jenghis Khan marah, ia memimpin sendiri pasukan ke arah selatan, dan mengalahkan Jalal ad-Din di Sungai Indus. Jalal al-Din kemudian melarikan diri ke India. Jenghis Khan menghabiskan waktu di wilayah selatan untuk mencari Shah, tetapi gagal menemukannya. Jenghis Khan kemudian kembali ke utara.

Setelah pusat-pusat perlawanan yang tersisa dihancurkan, Jenghis kembali ke Mongolia, meninggalkan pasukan Mongolia.Penguasaan wilayah ini terbukti menjadi batu loncatan penting bagi tentara Mongol di bawah pemerintahan putra Jenghis untuk menyerang Kievan Rus dan Polandia. Bagi dunia Islam, penghancuran Khwarezm membuat jalan penakhlukan ke Irak, Turki, dan Suriah menjadi terbuka lebar.

Perang dengan Khwarezm juga memunculkan pertikaian tentang siapakah pewaris Khan selanjutnya. Jenghis tidak muda ketika perang dimulai, dan dia memiliki empat putra, yang semuanya adalah petarung yang ganas dan masing-masing memiliki pengikut setia.

Pertikaian antar saudara hampir memuncak selama pengepungan Urgench, dan Jenghis terpaksa mengandalkan putra ketiganya, Ögedei, untuk menyelesaikan pengepungan. Dengan kehancuran Urgench, Jenghis secara resmi memilih Ögedei sebagai penerus, hal ini akan memicu perselisihan dikemudian hari.

Referensi :
http://www.allempires.com/article/index.php?q=kwarezm_shah_empire
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Khwarazmian_dynasty
https://en.wikipedia.org/wiki/Mongol_conquest_of_Khwarezmia
Share This Article :
8718423275451420981